BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kepribadian (personality) adalah jumlah
total cara-cara dimana seseorang individu beraksi atas dan berinteraksi dengan
orang lain. Pengukuran kepribadian dalam proses perekrutan penting dilakukan
agar manajer dapat memprediksi siapa yang terbaik untuk sebuah pekerjaan.
Mengukur kepribadian alasan paling penting mengapa manajer perlu mengetahui
bagaimana mengukur kepribadian adalah riset telah menunjukkan kegunaan uji
kepribadian dalam melakukan perekrutan dan membantu manajer memprediksi siapa
yang terbaik untuk sebuah pekerjaan. Alat paling umum untuk mengukur
kepribadian adalah melalui survey laporan diri dimana individu mengevaluasi
dirinya sendiri dalam serangkaian faktor.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud
dengan kepribadian, cara pengukuran kepribadian dan faktor-faktor pembentuknya?
2.
Bagaimana kerangka
kerja indikator Tipe kepribadian Myers Briggs serta kekuatan dan kelemahannya?
3.
Apa sifat-sifat utama
dalam model kepribadian lima besar?
4.
Bagaimana perbandingan
antara nilai-nilai terminal dan instrumental?
5.
Apa
perbedaan-perbedaan generasional dalam nilai-nilai?
6.
Apa saja lima nilai
dimensi Hofstede dari budaya nasional?
7.
Apa pengertian
persepsi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya?
8.
Apa yang disebut dengan
teori atribusi dan 3 penentu atribusi?
9.
Bagaimana individu
mengambil jalan pintas untuk melakukan penilaian terhadap orang lain?
10. Apa hubungan antara persepsi dan pengambilan keputusan?
11. Apa yang dimaksud dengan bias atau kesalahan keputusan
yang umum?
12. Bagaimana perbandingan antara 3 keputusan etis?
13. Apa yang dimaksud dengan kreativitas dan bagaimana model
tiga tahap kreativitas?
C.
Tujuan Pembahasan
1.
Menjelaskan
pengertian kepribadian, cara pengukuran kepribadian dan faktor-faktor
pembentuknya.
2.
Menjelaskan kerangka
kerja indikator Tipe kepribadian Myers Briggs serta kekuatan dan kelemahannya.
3.
Menjelaskan
sifat-sifat utama dalam model kepribadian lima besar.
4.
Mengidentifikasi
perbandingan antara nilai-nilai terminal dan instrumental.
5.
Mengidentifikasi
perbedaan-perbedaan generasional dalam nilai-nilai.
6.
Menjelaskan lima
nilai dimensi Hofstede dari budaya nasional.
7.
Menjelaskan
pengertian persepsi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
8.
Menjelaskan yang
disebut dengan teori atribusi dan 3 penentu atribusi.
9.
Mengidentifikasi
bagaimana individu mengambil jalan pintas untuk melakukan penilaian terhadap
orang lain.
10. Menjelaskan hubungan antara persepsi dan pengambilan
keputusan.
11. Menjelaskan bias atau kesalahan keputusan yang umum.
12. Membandingan antara 3 keputusan etis.
13. Menjelaskan yang dimaksud dengan kreativitas dan
bagaimana model tiga tahap kreativitas.
BAB II
PEMBAHASAN
BAB 5 KEPRIBADIAN DAN NILAI
A.
KEPRIBADIAN
Kepribadian (personality) adalah jumlah
total cara-cara dimana seseorang individu beraksi atas dan berinteraksi dengan
orang lain. Pengukuran kepribadian dalam proses perekrutan penting dilakukan
agar manajer dapat memprediksi siapa yang terbaik untuk sebuah pekerjaan.
Mengukur kepribadian alasan paling penting mengapa manajer perlu mengetahui
bagaimana mengukur kepribadian adalah riset telah menunjukkan kegunaan uji
kepribadian dalam melakukan perekrutan dan membantu manajer memprediksi siapa
yang terbaik untuk sebuah pekerjaan. Alat paling umum untuk mengukur
kepribadian adalah melalui survey laporan diri dimana individu mengevaluasi
dirinya sendiri dalam serangkaian factor.
Pembeda
Kepribadian
Hereditas (heredity) adalah faktor
yang ditentukan saat konsepsi; biologis, fisik dan pembentukan psikologis
inheren. Penelitian membuktikan bahwa hereditas mempengarui sekitar 50% dari kesamaan kepribdian antara anggota dan
lebih dari 30% kesamaan dalam minat
kerja dan hiburan. Karakteristik-karakteristik yang bertahan yang menjelaskan
perilaku seorang individu.
Indikator tipe
Myers-Briggs (Myers-Briggs Type Indicator [MBTI]) adalah sebuah tes kepribadian
yang mengelompkkan empat karakteristik dan mengklasifikasikan orang dalam 1
dari 16 tipe pribadian;
1.
Ekstrover(ekstrovered-E)
versus Introver (Intraverted-I).
Seseorang yang memiliki tipe ekstrovert cenderung
ramah, pandai bergaul, pandai bersosialisasi dan percaya diri. Sedangkan
seseorang yang memiliki tipe introver cenderung tenang dan pemalu.
2. Perasa
(sensing - S) versus Intuitif (intuitive -
N)
Seseorang yang
memiliki tipe perasa cenderung praktis
serta memilih rutin dan urutan serta detail. Sedangkan seseorang yang memiliki
tipe intuitif bergantung pada proses tidak sadar dan melihat pada gambaran
besar.
3. Pemikir
(thinking - T) versus Perasa (feeling -
F)
Seseorang yang
memiliki tipe memikirkan biasanya menggunakan penalaran dan logika untuk
menangani masalah. Sedangkan seseorang yang memiliki tipe merasakan berpegang
pada nilai-nilai dan emosi pribadi mereka.
4. Penilai
(judging - J) versus Penerima (perceiving - P)
Seseorang memiliki tipe
menilai menginginkan kendali dan memilih urutan dan struktur.Sedangkan
seseorang yang memiliki tipe menerima cenderung fleksibel dan spontan.
Sebagai contoh, seseorang yang
memiliki tipe INTJ (Introvert/Intiutif/Pemikir/Penilai) adalh visioner dengan
pikiran asli dan dorongan yang kuat. Mereka skeptis, kritis, independen,
berkemauan kuat dan seing kali sombong. Kemudian mereka yang mememiliki tipe
ESTJ (Ekstrover/Perasa/Pemiikir/Penilai) adalah pengatur. Mereka realistis,
logis, analitis danpembuat keputusan, cocok untuk bisnis atau mekanika.
C.
MODEL KEPRIBADIAN LIMA BESAR
Model Kepribadian Lima Besar (Big
Five Model) merupakan sebuah penelitian kepribadian yang mencakup lima dimensi
dasar
1. Ekstraversi.
Dimensi ini menampilkan level kenyamanan didalam hubungan. Ektrover cenderung
ekspresif, percaya diri dan mampu bersosialisasi. Selain itu mereka juga
pemalu, penakut dan tenang.
2. Keramahan.
Dimensi ini merujuk pada kecenderungan seseorang individu untuk memahami orang
lain. Orang ramah yang kooperatif, hangat dan mempercayai. Orang yang berskor
rendah cenderung dingin, tidak ramah dan antagonis.
3. Kehati-hatian.
Dimensi ini merupakan sebuah ukuran reabilitas. Orang yang sangat hati-hati,
bertanggung jawab, teratur, dapat diandalkan dan persisten. Mereka yang
memiliki skor rendah cenderung mudah dialihkan, tidak teratur dan tidak dapat
diandalkan.
4. Stabilitas
Emosional. Orang yang memiliki stabilitas emosional tinggi cenderung tenang,
percaya diri dan aman, sedangkan mereka yang memiliki stabilitas emosional yang
rendah cenderung gugup, cemas, depresi dan tidak aman.
5. Keterbukaan
pada pengalaman. Dimensi ini mencakup minat dan ketertarikan atas inovasi.
Orang yang sangat terbuka, kreatif, ingin tahu dansecara artistik sensitif.
Sebaliknya mereka yang berada diujung lainnya dari kategori ini konvensional
dan merasa nyaman dalan keadaan dikenal.
Model Lima Besar
menyediakan kerangka kerja kepribadian yang menyatu dan adanya keterkaitan
antara dimensi-dimensi kepribadian dengan prestasi kerja. Ada kaitan antara
dimensi kepribadian dengan prestasi kerja, sikap berhati-hati mempengaruhi
prestasi kerja yaitu sikap yang bertanggung jawab, teratur, dapat diandalkan
dan gigih.
Individu yang dapat dipercaya, dapat
diandalkan, bertanggung jawab, mampu membuat rencana, terorganisir, pekerja
keras, gigih dan berorientasi pada prestasi cenderung memiliki prestasi kerja
yang lebih tinggi. Karyawan dengan sikap berhati-hati yang tinggi cenderung
memiliki prestasi kerja yang lebih tinggi dan cenderung memiliki pengetahuan
kerja yang tinggi.
1. Stabilitas
Emosinal
Dari ke lima faktor besar dalam kepribadian,faktor
yang paling mempengaruhi kepuasan
hidup,kepuasan kerja,dan tingkat stress adalah stabilitas emosional. Seseorang
yang memilki tingkat stabilitas emosional yang tinggi memilki emosi-emosi
negatif yang lebih rendah dan lebih optimis,karena mampu mengontrol stress
lebih baik.
2. Ekstrover
Selanjutnya adalah faktor ekstrover.Seseorang yang
ekstrover cenderung ekspresif,memilki kepercayaan diri yang tinggi,dan mampu
bersosialisasi,sehingga mereka memilki emosi-emosi positif dibandingkan orang
yang introvert.Seseorang yang ekstrover memilki kinerja lebih baik,biasanya
mereka memiliki lebih banyak teman dan lebih banyak keahlian daripada seorang
introver,namun menurut beberapa studi seeorang ekstrover lebih cenderung
terlibat dalam perilaku berbahaya dan lebih cenderung untuk berbohong dalam
wawancara kerja dibanding oarng introver.
3. Terbuka Pada Pengalaman
Dalam hal kepemimpinan,dibutuhkan seorang pemimpin
yang terbuka pada pengalaman (memilki rasa ingin tahu dan ingin
beriovasi),seseorang yang terbuka
terhadap pengalaman memilki kreativitas yang lebih dalam berbagai hal. Dengan
kreativitas yang lebih,seorang pemimpin lebih mampu menghadapi perubahan dalam
organisasi (mampu beradaptasi dengan baik) dan mampu memimpin dengan efektif.
4. Keramahan
Faktor keramahan juga memilki pengaruh yang besar terhadap perilaku
pekerja di tempat kerja.Seorang pekerja yang ramah tentu saja akan mempunyai
banyak teman,dan disukai oleh pekerja lainnya. Mereka cenderung taat terhadap
peraturan,rentan terhadap kecelakaan kerja,dan lebih puas dalam
pekerjaannya.Kemudian,seorang pekerja yang ramah juga mempunyai kinerja yang
lebih baik dibanding pekerja lainnya dalam pekerjaan yang berorientasi
interpersonal seperti layanan pelanggan.
5.
Kehati-hatian
Seseorang yang memiliki tingkat kehati-hatian yang
tinggi memiliki kenerja dan mampu memimpin dengan lebih baik,hal itu disebabkan
mereka yang memiki kehati-hatian yang tinggi cenderung memilki usaha yang lebih
dan persisten,kemudian mereka memiliki kedisplinan dan motivasi yang lebih,serta
lebih teratur dan terencana.
DARK TRIAD
Faktor
lima besar dalam kepribadian merupakan faktor-faktor yang diinginkan dalam
dunia sosial,terdapat tiga faktor yang disebut Dark Triad,yaitu faktor-faktor
yang tidak disukai dalam dunia sosial,faktor-faktor tersebut adalah
machiavellianisme, narsisme,dan psikopat.
1.
Machiavellanisme
Seorang individu yang memiliki
kepribadian machiavellanisme cenderung menggunakan cara-cara yang kurang tepat
demi mencapai hasil yang diinginkan, seorang yang termasuk kategori
machiavellanisme mempercayai bahwa tercapainya tujuan atau hasil dapat
membenarkan segala cara. Mereka cenderung berperilaku agresif dan
kontraproduktif. Menurut beberapa riset,seorang machiavellanisme lebih sering
memanipulasi,lebih banyak menang,serta mampu mempengaruhi orang lain.Namun
kemenangan yang mereka raih hanya bersifat jangka pendek,karena maciavellanisme tidak disukai oleh banyak
orang.
2.
Narsisme
Narsisme ada suatu kepribadian
seseorang dimana orang tersebut memilki rasa berlebihan akan pentingnya diri,
ingin dikagumi secara lebih,dan cenderung angkuh. Seseorang yang narsis
memiliki motivasi kerja,keterlibatan kerja,dan kepuasan hidup yang lebih tinggi
dibanding orang lainnya.Selain itu mereka yang berkepribadian narsis mampu beradaptasi
dan mengambil keputusan lebih baik ketika dihadapkan pada keputusan yang
kompleks. Namun dalam konteks etis,seorang pemimpin yang memiliki kepribadian
narsis dinilai tidak etis dan tidak efektif karena mereka cenderung berpikir
mereka memimpin dengan lebih baik dibanding pemimpin-pemimpin lainnya,yang
justru mampu menurunkan kinerja mereka sendiri.
3.
Psikopat
Dalam konteks perilaku
organisasi,psikopat didefinisikan sebagai perilaku kurang peduli terhadap orang
lain,dan kurangnya rasa bersalah atas perilakunya yang membahayakan orang lain.
Seorang dapat dikatakan sebagai psikopat ketika mereka menilai motivasi
seseorang dalam mematuhi norma sosial, kesiapan untuk menipu demi memperoleh
hasil yang diinginkan, imulsivitas dan ketidakpedulian terhadap orang lain.
Berdasarkan sebuah studi,kepribadian
psikopat memiliki korelasi yang positif terhadap kemajuan organisasi namun
tidak terkain dengan aspek yang mempengaruhi kesuksesan dan efektivitas, hal
itu disebabkan karena seorang psikopat cenderung berperilaku licik,dan
menggunakan taktik-taktik keras seperti ancaman dan manipulasi,dan perilaku
kerja bullying, dimana perilaku tersebut membantu mereka untuk memperoleh
kekuasan dalam organisasi.
PENDEKATAN-PENGHINDARAN
Kerangka kerja
pendekatan-penghindaran menggunakan motivasi sebagai karateristik kepribadian.
Motivasi pendekatan dan penghindaran merupakan reaksi dari adanya rangsangan
atau stimulus. Kerangka pendekatan-penghindaran membantu memprediksi perilaku
kerja dan mencakup beragam motif kita saat bertindak. Contohnya tekanan
kompetitif memunculkan motivasi pendekatan dan motivasi penghindaran, motivasi
pendekatan berupa motivasi untuk bekerja lebih
keras untuk memenangkan kompetisi,sedangkan motivasi penghindaran berupa
pengalihan dan hilangnya motivasi karena rasa takut untuk kalah. Kinerja
seorang individu dipengaruhi oleh motivasi yang mendominasi apakah motivasi
pendekatan atau motivasi penghindaran.
SIFAT KEPRIBADIAN LAINNYA
YANG RELEVAN DENGAN PERILAKU ORGANISASI
Terdapat 3 faktor kuat dalam kepribadian
yang mempengaruhi perilaku
organisasi,yaitu:
1. Evaluasi
Inti Diri
Evaluasi inti diri adalah evaluasi
individu terhadap kemampuan,kompetensi,dan nilai mereka sebagai individu.
Seseorang yang memilki evaluasi inti diri positif cenderung lebih menyukai
dirinya,memandang dirinya efektif,mampu, dan dalam kendali atas lingkungannya.
Sedangkan seseorang yang memilki evaluasi diri yang negatif cenderung tidak
menyukai dirinya,ragu terhadap kemampuannya, dan merasa tidak berdaya atas
lingkungannya.
Orang yang memilki evaluasi diri
positif, memilki kinerja lebih baik dibanding yang orang yang memilki evaluasi
negatif,hal itu disebabkan mereka mampu menetapkan tujuan yang tepat, mampu berkomitmen atas tujuannya,dan
mampu bertahan dalam proses pencapaian tujuannya. Selain itu mereka yang
memiliki evaluasi diri positif mampu melayani pelanggan dengan lebih baik.
2.
Pengawasan Diri
Pengawasan diri adalah kemampuan
seseorang untuk menyesuaikan perilakunya terhadap faktor-faktor situasional
eksternal. Pengawasan diri yang tinggi menunjukkan kemampuan adaptasi yang
baik,dapat menyesuaikan perilakunya terhadap perubahan situasi dan tuntutan
faktor eksternal. Seorang yang memilki pengawasan diri yang tinggi memilki
kinerja yang baik,dan lebih mungkin untuk menjadi seorang pemimpin.
3.
Kepribadian Proakif
Kepribadian proaktif adalah,ketika
seseorang mengidentifikasi peluang,mengambil inisiatif dan tindakan, serta
mampu bertahan sampai adanya perubahan yang berarti. Orang-orang yang memilki
kepribadian proaktif lebih dibutuhkan oleh organisasi,karena mereka mampu
mengindentifikasi peluang,megambil tindakan atas adanya peluang tersebut,dan
mampu bertahan sampai adanya perubahan yang berarti. Selain itu,seorang yang
memilki kepribadian proaktif lebih cepat memproleh pekerjaan,hal itu
dikarenakan mereka mampu mempertimbangkan alternatif-alternatif (mengambil
inisiatif dan tindakan) dalam menghadapi kegagalan.
E.
KEPRIBADIAN DAN SITUASI
Semakin meningkat, kita mempelajari
bahwa efek sifat-sifat tertentu pada prilaku organisasi tergantung pada
situasi. Dua kerangka kerja teoretis membantu menjelaskan bagaimana ini
bekerja, yaitu:
1. Teori
kekuatan situasi
Teori kekuatan situasi (situation-strength theory)
mengindikasikan bahwa cara kepribadian bertranslasi ke dalam prilaku bergantung
pada kekuatan situasi.Para peneliti telah menganalisis kekuatan situasi
dalamorganisasi dari segi empat elemen, yaitu:
a. Kejelasan
b.
Konsistensi
c.
Batasan
d.
Konsekuensi
Namun
tidak berarti bahwa aturan selalu dinginkan oleh organisasi untuk menciptakan
situasi yang kuat bagi para pekerjanya, antara lain:
1) Pekerja
dengan aturan-aturan yang luar biasa banyak dan proses yang dikendalikan sangat
ketat bisa jadi membosankan dan menyebabkan penurunan motivasi.
2) Setiap
orang itu berbeda, pekerjan yang menurut orang itu baik mungkin terlihat buruk
bagi yang lainya.
3) Situasi
yang kuat mungkin menekan kreativitas, inisiatif, dan keleluasan yang
disebabkan oleh beberapa budaya.
4) Pekerja
semakin kompleks dan tekait secara global.
2. Teori
aktivitas sifat
Teori aktivitas sifat (trait activation
theory [TAT]) memprediksi bahwa beberapa situasi, pristiwa, atau intervensi
mengaktivasikan sebuah sifat lebih dari yang lain.
F.
NILAI
Nilai (value) menunjukkan alas an
dasar bahwa “cara pelaksanaan atau keadaan akhir tertentu lebih disukai secara
pribadi atau sosial dibandingkan cara pelaksanaan atau keadaan akhir yang
berlawanan.” Nilai memuat elemen pertimbangan yang membawa ide-ide seorang
individu mengenai hal-hal yang menyampaiakn yang baik, benar, atau diinginkan.
Nilai memiliki sifat isi dan intensitas.
Sifat menyampaikan bahwa cara
pelaksanaan atau keadaan akhir dari kehidupan adalah penting. Sifat intensitas
menjelaskan betapa pentingnya hal tersebut. Ketika menggolongkan nilai seorang
individu menurut intensitasnya, kita mendapatkan sistem nilai orang tersebut.
Pentingnya Nilai
dan Pembentukan Nilai
Nilai penting terhadap penelitian
perilaku organisasional karena menjadi dasarpemahaman sikap dan motivasi
individu, dank arena hal tersebut perpengaruh terhadap kita. Individu memasuki
suatu organisasi dengan pendapat yang telah terbentuk sebelumnya tentang apa
yang “seharusnya” dan apa yang “tidak seharusnya” terjadi.
Secara umum, nilai mempengaruhi sikap
dan perilaku. Misalnya, anda memasuki sebuah perusahaan dan memiliki pandangan
bahwa pengalokasian berdasarkan prestasi kerja adalah benar, sementara
pengalokasian imbalan berdasarkan senioritas adalah salah.
·
Nilai terminal (terminal
value) adalah hasil akhir yang dinginkan dari keberadan, sasaran yang ingin
dicapaiseseorangdalamhidupnya.
·
Nilai instrumental
(instrumental value)adalah modeprilaku yang lebih disukai, atau alat untuk
mencapai nilaiterminal seseorang.
G.
NILAI-NILAI
PADA GENERASI
Para peneliti telah mengintegrasikan
beberapa analisis terbaru dari nilai-nilai kerja ke dalam kelompok atau
generasi berbeda dalam angkatan kerja AS, seperti yang ditampilkan pada tabel
berikut :

Berdasarkan tTabel nilai-nilai kerja
dominan pada angkatan kerja di atas, ternyata klasifikasi ini belum cukup
didukung oleh riset yang solid. Tinjauan terkini menyatakan banyak terjadi
generalisasi yang dilebih-lebihkan atau tidak benar. Satu studi yang
menggunakan sebuah desain longitudinal menemukan bahwa nilai yang ditempatkan
pada kesenangan telah meningkat selama generasi dari generasi lonjakan bayi ke
generasi milenium dan sentralis kerja telah menurun, tetapi ia tidak mendapati
bahwa generasi milenium memiliki nilai kerja yang lebih altruistik seperti yang
diharapkan. Klasifikasi generasional
bisa membantu kita memahami generasi kita sendiri dan generasi lainnya dengan
lebih baik, tetapi kita juga harus mengapresiasi batasan-batasannya.
Kecocokan
Orang-Pekerjaan
Usaha untuk mencocokkan
tuntutan pekerjaan dengan karakteristik kepribadian diartikulasikan paling baik
dalam teori kecocokan kepribadian-pekerjaan (personality-job fit theory) John
Holland. Holland menampilkan enam tipe kepribadian serta mengusulkan bahwa
kepuasan dan keinginan untuk meninggalkan sebuah posisi bergantung pada
seberapa baik individu itu mencocokkan kepribadiannya dengan sebuah pekerjaan.
Holland mengembangkan
kuesioner Persediaan Pilihan Vokasional yang mengandung 160 kewajiban
pekerjaan. Re3ponden mengindikasikan mana yang mereka sukai atau tidak disukai,
dan jawaban mereka membentuk profil kepribadian dengan bentuk heksagonal.
Semakin dekat dua bidang atau orientasi dalam heksagon, semakin cocok mereka.
Kategori yang berdekatan cukup mirip, sedangkan yang berlawanan diagonal sangat
tidak mirip.
Apakah arti semua ini?
Teorinya berpendapat bahwa kepuasan tertinggi dan perputaran terendah ketika
kepribadian dan pekerjaan cocok. Seorang yang realistis dalam pekerjaan yang
realistis berada dalam situasi yang lebih kongruen dibandingkan orang realistis
dalam pekerjaan investigatif. Seorang yang realistis dalam pekerjaan sosial
berada dalam situasi yang paling tidak kongruen. Poin penting dari model ini
adalah bahwa orang-orang yang memiliki pekerjaan yang kongruen dengan
kepribadiannya seharusnya lebih puas dan kurang berisiko mengundurkan diri
dibandingkan orang-orang yang memiliki pekerjaan yang tidak kongruen.
Kecocokan
Orang-Organisasi
Kita telah memperhatikan
bahwa para peneliti telah mengamati kecocokan orang dengan organisasi
sebagaimana dengan pekerjaan. jika sebuah organisasi menghadapi lingkungan yang
dinamis dan berubah serta membutuhkan pekerja untuk siap mengubah tugastugas
dan berpindah antartim dengan mudah, maka yang lebih penting adalah melihat
kecocokan kepribadian pekerja dengan budaya keseluruhan organisasi dibandingkan
dengan karakteristik setiap pekerjaan.
Kecocokan orang-organisasi
pada dasarnya berpendapat bahwa orang-orang tertarik pada dan dipilih oleh
organisasi yang sesuai dengan nilai-nilai mereka, dan mereka meninggalkan
organisasi yang tidak cocok dengan kepribadiannya. Misalnya, dengan menggunakan
terminologi Lima Besar, kita dapat mengharapkan bahwa orang-orang yang sangat
ekstrover cocok dengan budaya agresif dan berorientasi tim, bahwa orang yang
sangat ramah cocok dengan iklim organisasi yang mendukung daripada yang
berfokus pada keagresifan, dan bahwa orang dengan sangat terbuka pada
pengalaman cocok dengan organisasi yang menekankan inovasi dibandingkan
standardisasi. Mengikuti panduanpanduan ini pada saat merekrut, membantu
mengidentifikasi pekerja-pekerja baru yang lebih cocok dengan budaya
organisasi, yang kemudian, menghasilkan kepuasan pekerja dan mengurangi jumlah
pekerja yang mengundurkan diri (perputaran). Riset pada kecocokan
orang-organisasi juga telah melihat apakah nilai-nilai orang cocok dengan
budaya organisasi. Kecocokan ini memprediksi kepuasan kerja, komitmen pada
organisasi, dan perputaran yang rendah. Beberapa riset mendapati bahwa
kecocokan orangorganisasi lebih penting dalam memprediksi perputaran pekerja di
negara kolektivistik (India) daripada di negara yang lebih individualistis
(Amerika Serikat).
I.
Nilai-Nilai Internasional
Salah satu pendekatan yang
paling dirujuk secara luas untuk menganalisis variasi di antara budaya
dilakukan di akhir 1970-an oleh Geert Hofstede. Hofstede menyurvei lebih dari
116.000 pekerja IBM di 40 negara mengenai nilai-nilai terkait pekerjaan mereka
dan mendapati bahwa manajer dan pekerja beragam dalam lima dimensi nilai dari
budaya nasional:
1.
jarak kekuasaan.
Jarak kekuasaan menjelaskan tingkat di mana orang-orang dalam suatu negara
menerima bahwa kekuasaan dalam institusi dan organisasi menyebar tidak merata.
Peringkat yang tinggi dalam jarak kekuasaan berarti bahwa ketidaksamaan yang
besar atas kekuasaan dan kekayaan ada dan ditoleransi dalam budaya, sebagaimana
dalam sebuah sistem kelas atau kasta yang menahan mobilitas ke atas. Peringkat
jarak kekuasaan yang rendah mengarakteristikkan masyarakat yang menekankan
kesamaan dan peluang.
2.
Individualisme
versus kolektivisme. Individualisme adalah tingkat di mana orangorang lebih
memilih untuk bertindak sebagai individu dibandingkan sebagai anggota kelompok
dan mempercayai hak-hak individu di atas segalanya. Kolektivisme menekankan
kerangka sosial yang ketat di mana orang-orang mengharapkan yang lain dalam
kelompok yang menjadi bagiannya untuk merawat dan melindungi mereka.
3.
Maskulinitas versus
feminimitas. Konsep maskulinitas Hofstede adalah tingkat di mana budaya
menyukai peran-peran maskulin tradisional seperti pencapaian, kekuasaan, dan
kendali, berlawanan dengan pandangan pria dan wanita adalah sama Peringkat
maskulinitas yang tinggi mengindikasikan budaya telah memisahkan peran bagi
pria dan wanita, dengan pria mendominasi masyarakat. Peringkat femininitas
tinggi berarti budaya melihat sedikit perbedaan antara peran pria dan wanita
dan memperlakukan wanita sama dengan pria dalam segala hal.
4.
Penghindaran
ketidakpastian. Tingkat di manaorang-orang dalam suatu negara lebih memilih
situasi yang terstruktur atau tidak terstruktur menentukan penghindaran
ketidakpastian mereka. Dalam budaya dengan skor penghindaran ketidakpastian
yang tinggi, orang-orang memiliki tingkat kecemasan yang tinggi mengenai
ketidakpastian dan ambiguitas dan menggunakan hukum dan kontrol. Untuk
mengurangi ketidakpastian. Orang-orang dalam budaya dengan penghindaran
ketidakpastian yang rendah lebih menerima ambiguitas, kurang berorientasi pada
peraturan, mengambil lebih banyak risiko. dan lebih siap menerima perubahan.
5.
Orientasi jangka
panjang versus jangka pendek. Tambahan terbaru pada tipoiOgi Hofstede mengukur
kesetiaan masyarakat pada nilai-nilai tradisional. Orang-orang dalam budaya
dengan orientasi jangka panjang melihat masa depan dan menghargai kebijaksanaan,
persistensi, serta tradisi. Dalam orientasi jangka pendek, orangorang menilai
di sini dan saat ini; mereka lebih siap menerima perubahan dan tidak melihat
komitmen sebagai rintangan untuk berubah.
Bagaimana skor beberapa negara dalam dimensi
Hofstede? Misalnya, jarak kekuasaan lebih tinggi di Malaysia daripada di negara
lainnya. Amerika Serikat sangat individualis; faktanya, Amerika merupakan
negara paling individualis dibanding semua negara (diikuti oleh Australia dan
Inggris Raya). Amerika Serikat juga cenderung berada dalam orientasi jangka
pendek dan rendah dalam jarak kekuasaan (orang-orang di Amerika Serikat
cenderung menerima perbedaan-perbedaan kelas yang terbentuk antara orangorang).
Ia juga relatif rendah dalam penghindaran ketidakpastian, berarti kebanyakan
orang dewasa relatif toleran atas ketidakpastian dan ambiguitas. Amerika
Serikat memiliki skor relatif tinggi pada maskulinitas: kebanyakan orang-orang
menekankan peran-peran jenis kelamin tradisional (setidaknya relatif terhadap negara-negara
seperti Denmark, Finlandia, Norwegia, dan Swedia).
perhatikan
perbedaan-perbedaan regional. Negara-negara barat dan utara seperti Kanada dan
Belanda cenderung lebih individualis. Negara-negara lebih miskin seperti
Meksiko dan Filipina cenderung lebih tinggi dalam jarak kekuasaan.
Negara-negara Amerika Selatan cenderung lebih tinggi dibandingkan negara-negara
lainnya dalam penghindaran ketidakpastian, dan negara-negara Asia cenderung
memiliki orientasi jangka panjang.
Dimensi budaya Hofstede telah
sangat berpengaruh besar dalam para peneliti perilaku organisasi dan manajer.
Meskipun demikian, risetnya telah dikritik. Pertama, meskipun datanya telah
diperbarui semenjak itu, riset awalnya dilakukan lebih dari 30 tahun lalu dan
didasarkan pada perusahaan tunggal (IBM). Banyak yang telah terjadi di dunia
sejak saat itu. Beberapa perubahan yang paling tampak termasuk runtuhnya Uni
Soviet, transformasi Eropa tengah dan timur, akhir dari pembedaan ras di Afrika
Selatan, naiknya Cina sebagai kekuatan global, dan mulainya resesi dunia.
Kedua, sedikit peneliti yang telah benar-benar membaca detail metodologi
Hofstede dan oleh karena itu tidak sadar mengenai banyak keputusan dan
penilaian yang harus ia buat (misalnya, mengurangi jumlah nilai-nilai budaya menjadi
hanya lima). Meskipun adanya pertimbangan-pertimbangan tersebut, Hofstede telah
menjadi salah seorang ilmuwan sosial yang paling banyak dikutip, dan kerangka
kerjanya telah meninggalkan jejak abadi dalam perilaku organisasi.
Riset terbaru yang mencakup
598 studi dengan lebih dari 200.000 responden telah menginvestigasi hubungan
dari nilai-nilai budaya Hofstede dan ragam kriteria organisasi baik pada level
individu maupun negara.” Secara keseluruharn, kelima dimensi budaya orisinal
merupakan prediktor yang sama kuatnya atas hasil yang relevan, berarti para
peneliti dan manajer perlu memikirkan mengenai budaya secara holistis dan tidak
hanya fokus pada satu atau dua dimensi. Para peneliti juga menemukan bahwa
mengukur skor individu menghasilkan prediksi yang lebih baik dari kebanyakan
hasil dibandingkan menugaskan nilai-nilai budaya yang sama pada semua orang
dalam suatu negara. Kesimpulannya, riset ini menyatakan bahwa kerangka nilai
Hofstede bisa menjadi cara berpikir berharga mengenai perbedaan-perbedaan di
antara orang-orang, tetapi kita seharusnya lebih hati-hati dalam mengasumsikan
semua orang dari satu negara memiliki nilai-nilai yang sama.
Kerangka
GLOBE untuk Menilai Budaya Dimulai tahun
1993, program riset Kepemimpinan Global dan Efektivitas Perilaku Organisasi (
GLOBE) adalah sebuah investigasi lintas budaya yang berkelanjutan atas
kepemimpinan dan budaya nasional Dengan menggunakan data dari 825 organisasi di
62 negara, tim GLOBE mengidentifikasi sembilan dimensi yang membedakan budaya
nasional. Beberapa seperti jarak kekuasaan, individualisme/kolektivisme,
penghindaran ketidakpastian, diferensiasi jenis kelamin (mirip dengan
maskulinitas versus femininitas), dan orientasi masa depan (mirip dengan
orientasi jangka panjang versus jangka pendek)-menyerupai dimensi-dimensi
Hofstede. Perbedaan utama adalah bahwa kerangka GLOBE menambahkan
dimensidimensi, seperti orientasi kemanusiaan (tingkat di mana masyarakat
menghargai individu yang altruistik, murah hati, dan baik pada orang lain)
serta orientasi kinerja (tingkat di mana masyarakat menndorong dan menghargai
anggota kelompok atas perbaikan kinerja dan kesempurnaan).
Kerangka mana yang lebih baik? Itu sulit
untuk dikatakan, dan masing-masing memiliki pendukungnya. Kita memberi
penekanan lebih pada dimensi-dimensi Hofstede di sini karena mereka tahan uji
sepanjang waktu dan studi GLOBE berusaha menjelaskannya. Misalnya, sebuah
tinjauan dari literatur komitmen organisasi menunjukkan bahwa baik dimensi
individualisme/kolektivisme Hofstede maupun GLOBE bekerja dengan serupa.
Khususnya, kedua kerangka itu menunjukkan bahwa komitmen organisasi cenderung
lebih rendah dalam negara-negara individualis. Studi ini menunjukkan bahwa
terlalu sering kita mengambil pilihan yang salah-kedua kerangka itu memiliki
banyak kesamaan, dan masing-masing memiliki sesuatu yang ditawarkan.
BAB 6
PERSEPSI DAN PENGAMBILAN
KEPUTUSAN INDIVIDU
Sejumlah faktor membentuk dan kadang-kadang mengganggu
persepsi. Faktor-faktor ini bisa berada pada penilai, pada objek atau target
yang dinilai, atau pada situasi di mana persepsi itu dibuat (lihat Tampilan
6-1).

Ketika Anda melihat sebuah target, interpretasi Anda
tentang apa yang Anda lihat dipengaruhi oleh karakteristik-karakteristik
pribadi Anda--sikap, kepribadian, motif, minat, pengalaman masa lampau, dan
ekspektasi. Misalnya, jika Anda mengharapkan petugas polisi agar otoritatif,
Anda mungkin menilai mereka demikian, tanpa memandang sifat-sifat yang
sebenarnya.
Karakteristik dari target juga memengaruhi
apa yang kita nilai. Orang-orang yang berisik mungkin lebih disadari daripada
yang pendiam. Demikian halnya dengan mereka yang sangat menarik atau sangat
tidak menarik. Oleh karena kita tidak melihat target dalam isolasi, hubungan
antara sebuah target dan latar belakangnya memengaruhi persepsi, sebagaimana
kecenderungan kita untuk mengelompokkan hal-hal yang dekat dan mirip
bersama-sama. Kita sering menilai wanita, pria, Kulit Putih, Afrika Amerika,
Asia, atau anggota kelompok lainnya yang memiliki karakteristik-karakteristik
yang secara jelas berbeda sebagai kesamaan dalam cara lain yang tidak
berhubungan juga.
Konteks pun berpengaruh. Waktu saat kita
melihat suatu objek atau peristiwa dapat memengaruhi perhatian kita,
sebagaimana pula lokasi, cahaya, panas, atau faktor-faktor situasional.
Misalnya, pada Sabtu malam Anda mungkin tidak menyadari seseorang “berhias”.
Tetapi jika orang itu berhias pada kelas manajemen Senin pagi, tentu saja Anda
akan memperhatikannya. Tidak satupun dari penilai atau target berubah dari
sabtu malam dan senin pagi, tetapi situasinya berbeda.
Teori
Atribusi
Benda-benda mati seperti bangku, mesin, dan
bangunan mengikuti hukum alam, tetapi mereka tidak memiliki kepercayaan, motif,
atau niat. Manusia memiliki semua itu. Ketika kita mengamati orang, kita
mencoba menjelaskan perilaku mereka. Persepsi dan penilaian kita tentang
tindakan orang dipengaruhi oleh asumsi yang kita buat di pikiran kita terhadap
orang itu.
Teori atribusi
mencoba menjelaskan cara-cara kita menilai orang dengan berbeda bergantung pada
pengertian yang kita atribusikan pada sebuah perilaku. Itu menyatakan bahwa
ketika kita mengamati perilaku seorang individu, kita mencobaa menentukan
apakah itu disebabkan dari internal atau eksternal. Penentuan itu terutama
tergantung pada tiga faktor: (1) perbedaan, (2) konsensus, dan (3) konsistenSL
Mari kita klarifikasi perbedaan antara penyebab internal dan eksternal, dan
kita akan mendiskusikan faktor-faktor penentu itu.
Perilaku yang disebabkan
internal adalah yang dipercaya pengamat berada dalam kendali perilaku pribadi
dari individu. Perilaku yang disebabkan eksternal adalah apa yang kita
bayangkan situasi memaksa individu untuk melakukannya. jika salah satu pekerja
Anda datang terlambat, Anda mungkin mengatribusikannya pada bangun tidur
kesiangan akibat pesta malam yang ia adakan. Ini adalah atrubusi internal.
Tetapi jika Anda mengatribusikannya pada kecelakaan mobil yang membuat macet,
Anda membuat atribusi eksternal.
Sekarang mari kita
diskusikan ketiga faktor penentu. Perbedaan merujuk pada apakah seorang
individu menampilkan perilaku yang berbeda dalam situasi yang berbeda. Apakah
pekerja yang datang telat hari ini adalah yang secara teratur mengingkari
komitmen? Apa yang kita ingin ketahui adalah apakah perilakunya tidak biasa.
Jika ya, kita mungkin memberikan atribusi eksternal. jika tidak, kita mungkin
menilai perilaku itu internal.
Jika setiap orang menghadapi
situasi yang sama memberikan respons yang sama, kita dapat mengatakan perilaku
itu menunjukkan konsensus. Perilaku dari pekerja yang terlambat memenuhi
kriteria ini jika semua pekerja yang menempuh rute yang sama juga terlambat.
Dari sebuah perspektif atribusi, jika konsensusnya tinggi, Anda mungkin
memberikan atribusi eksternal pada keterlambatan pekerja itu, sedangkan jika
pekerja lain yang menempuh rute yang sama bisa datang tepat waktu, Anda akan
mengatribusikan keterlambatannya sebagai penyebab internal.
Terakhir, seorang pengamat
mencari konsistensi dalam tindakan seseorang. Apakah orang itu merespons dengan
cara yang sama sepanjang waktu? Datang terlambat 10 menit tidak dinilai dengan
cara yang sama bagi pekerja yang belum pernah terlambat dalam beberapa bulan
dibandingkan pekerja yang terlambat tiga kali seminggu Semakin konsisten
perilakunya, semakin mungkin kita mengatribusikannya pada penyebab internal.
Tampilan 6-2 meringkas
elemen-elemen penting dalam teori atribusi. Hal ini menyatakan pada kita bahwa
jika seorang pekerja, misalnya Katelyn, umumnya tingkat kinerja yang sama pada
tugas-tugas lain sebagaimana yang ia mengerjakan tugasnya sekarang (perbedaan
yang rendah), pekerja lainnya sering kali memiliki kinerja berbeda-lebih baik
atau lebih buruk-dibandingkan Katelyn pada tugas itu (konsensus rendah), dan
kinerja Katelyn atas tugas sekarang konsisten sepanjang waktu (konsistensi
tinggi), siapa pun yang menilai pekerjaan Katelyn mungkin akan menganggap bahwa
ia sangat bertanggung jawab atas kinerja tugasnya (atribusi internal).
Salah satu temuan dari riset
teori atribusi adalah bahwa kesalahan atau bias mengganggu atribusi. Ketika
kita membuat penilaian mengenai perilaku orang lain, kita cenderung meremehkan
pengaruh faktor-faktor eksternal dan melebihkan pengaruh faktor-faktor internal
atau pribadi. Kesalahan atribusi fundamental ini dapat menjelaskan mengapa
seorang manajer penjualan cenderung mengatribusikan buruknya kinerja agen penjualnya
pada kemalasan dibandingkan pada lini produk inovatif kompetitor. Individu dan
organisasi juga cenderung mengatribusikau kesuksesan mereka pada faktor-faktor
internal seperti kemampuan atau usaha, tetapi menyalahkan kegagalan pada
faktor-faktor eksternal seperti ketidakberuntungan atau rekan kerja yang tidak
produktif. Orang-orang juga cenderung mengatribusikan informasi-informasi
ambigu seperti pujian bagus, menerima umpan balik positif dan menolak umpan
balik negatif. Hal ini merupakan bias pelayanan diri. Para peneliti menanyai
sekelompok orang, jika seseorang menuntut Anda dan Anda memenangkan kasus itu,
haruskah ia membayar biaya hukum Anda?” Delapan puluh persen merespons
“ya". Kelompok lainnya ditanyakan. “jika Anda menuntut

seseorang dan kalah dalam kasus itu,
haruskah Anda membayar biayanya? Hanya 44% menjawab “ya”.
Bukti dari
perbedaan-perbedaan budaya dalam persepsi bercampur, tetapi kebanyakan
menyatakan bahwa ada perbedaan lintas budaya dalam atribusi yang dibuat orang.s
Satu studi menemukan manajer Korea cenderung kurang bias pelayanan diri-mereka
cenderung menerima tanggung jawab atas kegagalan kelompok “Hal ini dikarenakan
saya bukan pemimpin yang cakap” bukannya mengatribusikan kegagalan pada anggota
kelompok. Di sisi lain, manajer-manajer Asia lebih mungkin menyalahkan
institusi atau seluruh organisasi, sedangkan pengamat Barat percaya
manajer-manajer individu seharusnya disalahkan atau dipuji. Hal itu mungkin
menjelaskan mengapa surat kabar AS menampilkan nama-nama eksekutif individu
ketika perusahaan berkinerja buruk, sedangkan media Asia memberitakan bagaimana
perusahaan secara keseluruhan gagal. Kecenderungan untuk membuat atribusi
berdasarkan kelompok ini juga menjelaskan mengapa individu dari budaya Asia
lebih mungkin membuat stereotip berdasarkan kelompok. Teori atribusi
dikembangkan berdasarkan eksperimen dengan pekerja AS dan Eropa Barat. Tetapi
studi-studi ini menyarankan kehati-hatian dalam membuat prediksi teori atribusi
dalam komunitas non-Barat, khususnya pada negaranegara dengan tradisi kolektif
yang kuat.
Perbedaan-perbedaan dalam
kecenderungan atribusi tidak berarti konsep dasar atribusi sepenuhnya berbeda
lintas budaya. Bias pelayanan diri bisa jadi kurang umum dalam budaya Asia
Timur, tetapi bukti menyatakan mereka masih beroperasi lintas budaya. Studi
mengindikasikan manajer Cina menilai menyalahkan sesuatu dengan menggunakan
petunjuk-petunjuk perbedaan, konsensus, dan konsistensi yang sama seperti yang
digunakan manajer Barat. Mereka juga menjadi marah dan menghukum mereka yang
dianggap bertanggung jawab atas kegagalan, sebuah reaksi yang ditunjukkan dalam
banyak studi manajer Barat. Ini berarti proses dasar atribusi teraplikasi
lintas budaya tetapi dibutuhkan lebih banyak bukti bagi manajer Asia untuk
menyimpulkan orang lail1 harus disalahkan.
Jalan
Pintas dalam Menilai Orang Lain secara Umum
Jalan pintas untuk menilai
orang lain sering kali memperbolehkan kita untuk membuat Persepsi akurat dengan
cepat dan memberikan data yang valid untuk membuat prediksi.
Bagaimana pun, mereka dapat dan memang kadang-kadang menghasilkan distorsi signifikan.
Bagaimana pun, mereka dapat dan memang kadang-kadang menghasilkan distorsi signifikan.
Persepsi
Selektif Karakteristik apa pun yang
membuat seseorang. sebuah objek. atau sebuah peristiwa menonjol akan
meningkatkan probabilitas kita menilainya? Mengapa? Oleh karena tidak mungkin
bagi kita untuk mengasimilasikan semua hal yang kita lihat; kita dapat
mengambil hanya rangsangan tertentu. Oleh karena itu, Anda lebih mungkin untuk
menyadari mobil yang mirip dengan punya Anda, dan atasan Anda mungkin memarahi
beberapa orang dan bukan yang lain yang melakukan hal yang sama. Oleh karena
kita tidak dapat mengamati semua hal yang terjadi, kita menggunakan persepsi
selektif. Tetapi kita tidak memilih secara acak kita memilih menurut minat,
latar belakang, pengalaman, dan sikap kita. Persepsi selektif membuat kita
membaca orang lain dengan cepat, tetapi berisiko menggambarkan gambaran yang
tidak akurat. Melihat apa yang ingin kita lihat, kita dapat menggambarkan
kesimpulan yang tidak dapat dijamin dari sebuah situasi yang ambigu.
Kita menemukan contoh
persepsi selektif dalam analisis keuangan. Dari tahun 2007 sampai 2009, pasar
saham AS kehilangan hampir separuh nilainya. Tetapi selama waktu itu, peringkat
jual analis (umumnya, analis menilai saham sebuah perusahaan dengan tiga
rekomendasi: beli, jual, atau pegang) sebenarnya menurun sedikit. Ada beberapa
alasan analis enggan untuk menempatkan peringkat jual dalam saham; salah
satunya adalah persepsi selektif. Ketika harga turun, analis sering melihat
masa lalu (katakanlah saham itu relatif murah dibandingkan harga sebelumnya),
dibandingkan pada masa depan (tren yang menurun bisa berlanjut). Hal ini
menunjukkan contoh bahaya dari persepsi selektif: Dengan melihat hanya pada
harga masa lalu, analis mengandalkan poin rujukan yang salah dan gagal
mengenali bahwa apa yang telah jatuh masih dapat jatuh lebih jauh.
Efek
Halo Ketika kita menggambarkan sebuah
kesan mengenai seorang individu berdasarkan sebuah karakteristik tunggal,
seperti kecerdasan, kemampuan bersosialisasi, atau penampilan, sebuah efek halo
sedang bekerja. jika Anda adalah seorang pengagum, cobalah tuliskan 10 hal yang
tidak Anda sukai tentangnya. Tidak peduli bagaimana, kemungkinannya Anda tidak
akan mendapati hal itu sebagai tugas yang mudah! ltulah efek halo: Pandangan
umum kita mengontaminasi pandangan spesifik kita.
Efek halo dikonfirmasi dalam
sebuah studi klasik di mana subjek diberikan sebuah daftar sifat-sifat seperti
cerdas, terampil, giat, rajin, berkemauan kuat, serta hangat; subjek diminta
untuk mengevaluasi orang yang memiliki sifat sifat tersebut. Subjek menilai
orang itu bijaksana, humoris, populer, dan imajinatif. Ketika daftar yang sama
menggantikan “dingin” dengan “hangat”, satu gambaran yang benar-benar berbeda
muncul. jelasnya, subjek membuat sebuah sifat tunggal memengaruhi kesan
keseluruhan mereka atas orang yang mereka nilai.
Efek
Kontras Sebuah ucapan kuno di antara
para penghibur adalah, jangan pernah ikuti tindakan yang melibatkan anak-anak
atau hewan.” Mengapa? Penonton sangat menyukai anak-anak dan hewan sehingga
Anda akan kelihatan buruk dalam perbandingan. Contoh ini menunjukkan bagaimana
efek kontras dapat mengganggu persepsi. Kita tidak mengevaluasi orang yang
sedang diisolasi. Reaksi kita dipengaruhi oleh hal-hal lain yang muncul
baru-baru ini.
Dalam sebuah rangkaian
wawancara pekerjaan, pewawancara dapat membuat distorsi nada evaluasi kandidat
tertentu akibat posisi jadwal wawancaranya. Seorang kandidatmungkin menerima
evaluasi yang lebih menyenangkan jika diawali oleh pelamar rata-rata dan
evaluasi yang kurang menyenangkan jika diawali oleh pelamar yang kuat.
Stereotip Ketika kita menilai seseorang berdasarkan persepsi kita
atas kelompok asalnya, kita sedang melakukan stereotip.
Kita berhadapan dengan
jumlah rangsangan yang tidak dapat dikendalikan dan dunia yang kompleks dengan
menggunakan heuristis atau stereotip untuk mengambil keputusan dengan cepat.
Misalnya, masuk akal untuk mengasumsikan bahwa Allison dari keuangan akan mampu
membantu Anda menyelesaikan masalah anggaran. Masalah terjadi ketika kita
menggeneralisasikan dengan tidak akurat atau berlebihan. Dalam organisasi, kita
sering kali mendengar komentar yang mewakili stereotip berdasarkan jenis
kelamin, umur, ras, agama, etnis, dan bahkan berat badan. "Pria tidak tertarik
dengan perawatan anak,” “Pekerja yang lebih tua tidak dapat mempelajari
keahlian-keahlian baru," “Imigran Asia adalah pekerja keras dan
hati-hati.” Riset menyatakan stereotip beroperasi secara emosional dan sering
kali di bawah alam sadar, membuat sulit untuk dilawan dan diubah.
Stereotip dapat berakar
dalam dan cukup kuat untuk memengaruhi keputusan hidup dan mati. Satu studi,
dengan mengendalikan ragam faktor (seperti situasi yang menjengkelkan atau
menjustiiikasi), menunjukkan bahwa tingkat di mana Kulit Hitam yang dibela
dalam pengadilan pembunuhan yang terlihat sebagai “stereotip terhadap kulit
hitam” karena biasanya mereka dua kali lipat berisiko menerima hukuman mati
jika terbukti bersalah. Studi lainnya mendapati bahwa pelajar yang membaca skenario
yang menjelaskan pemimpin cenderung memperoleh skor tinggi pada potensi
kepemimpinan dan kepemimpinan efektif pada Kulit Putih dibandingkan kaum
minoritas meskipun isi dari skenarionya ekuivalen, mendukung ide stereotip
bahwa Kulit Putih adalah pemimpin yang lebih baik.
Satu masalah dari stereotip
adalah adanya generalisasi yang menyebar luas. meskipun mungkin tidak
mengandung kebenaran ketika diaplikasikan pada orang atau situasi tertentu.
Kita harus memonitor diri kita masing-masing untuk meyakinkan jangan sampai
kita tidak adil dalam menerapkan stereotip dalam evaluasi dan keputusan kita.
Stereotip adalah sebuah contoh peringatan, “Semakin berguna, semakin berbahaya
disalahgunakan”.
Aplikasi
Spesifik dari jalan Pintas dalam Organisasi
Wawancara
Kerja Sedikit orang yang direkrut tanpa
wawancara. Namun, pewawancara membuat penilaian perseptual yang sering kali
tidak akurat dan menggambarkan kesan awal yang dengan cepat mengakar. Riset
menunjukkan kita Membentuk kesan atas orang lain dalam 10 detik, berdasarkan
pandangan pertama. Riset terbaru mengindikasikan bahwa intuisi individual kita
mengenai sebuah kandidat pekerjaan tidak dapat diandalkan dalam memprediksi
kinerja, tetapi bahwa mengumpulkan masukan dari banyak evaluator independen
dapat menjadi lebih prediktif. Kebanyakan keputusan pewawancara berubah sangat
sedikit sesudah 4 atau 5 menit pertama wawancara. Sebagai hasilnya, informasi
yang diperoleh dari awal wawancara membawa bobot yang lebih besar dibandingkan
informasi yang diperoleh sesudahnya, dan pelamar yang baik mungkin
dikarakterisasi lebih berdasarkan tidak adanya karakteristik yang tidak
menyenangkan dibandingkan berdasarkan kehadiran karakteristik yang
menyenangkan.
Ekspektasi
Kinerja Orang-orang mencoba untuk
memvalidasi persepsi mereka mengenai realita bahkan ketika hal-hal ini salah.
Istilah prediksi pemenuhan diri dan efek Pygmalion menjelaskan bagaimana
perilaku seorang individu ditentukan oleh ekspektasi orang lain. Jika seorang
manajer mengekspektasikan hal-hal besar dari pekerjanya, mereka tidak mungkin
mengecewakannya. Sama halnya, jika ia mengharapkan hanya kinerja minimal,
mereka akan mungkin memenuhi ekspektasi rendah itu. Ekspektasi menjadi realita.
Prediksi pemenuhan diri telah didapati memengaruhi kinerja pelajar, tentara, dan
bahkan akuntan.
Evaluasi
Kinerja Masa depan seorang pekerja
sangat terikat dengan penilaian-promosi, kenaikan gaji, dan kelanjutan
pekerjaan adalah beberapa hasilnya. Meskipun penilaian bisa jadi objektif
(misalnya, seorang agen penjualan dinilai berdasarkan berapa banyak dolar yang
dihasilkannya dari penjualan di wilayahnya), banyak pekerjaan dinilai secara
subjektif. Evaluasi subjektif, meskipun kadang kala perlu, adalah problematik
karena kesalahan yang kita diskusikan-persepsi selektif, efek kontras, efek
halo, dan seterusnya. Kadang-kadang peringkat kinerja mengatakan tentang
evaluator sebanyak yang dikatakannya tentang pekerja
Individu mengambil
keputusan, pilihan yang dibuat dari dua atau lebih alternatif. Manajer puncak
menentukan sasaran organisasi mereka, produk atau jasa apa yang akan
ditawarkan, cara terbaik apa untuk mendanai operasional, atau di mana lokasi
sebuah pabrik manufaktur baru. Manajer level menengah dan lebih rendah menetapkan
jadwal produksi, memilih pekerja-pekerja baru, dan menentukan bagaimana alokasi
kenaikan gaji. Organisasi telah mulai memberdayakan pekerja non manajerialnya
dengan otoritas pengambilan keputusan yang sejarahnya dikhususkan bagi manajer
saja. Oleh karena itu pengambilan keputusan individu merupakan bagian penting
dari perilaku organisasi. Tetapi cara individu mengambil keputusan dan kualitas
pilihannya sangat dipengaruhi oleh persepsi mereka.
Pengambilan keputusan
terjadi sebagai reaksi atas masalah. Yaitu, sebuah perbedaan antara situasi
sekarang dan yang diinginkan, yang mengharuskan kita mempertimbangkan
alternatif-alternatif tindakan. jika mobil Anda mogok dan Anda mengandalkannya
untuk berangkat kerja, Anda memiliki masalah yang membutuhkan keputusan Anda.
Sayangnya, kebanyakan masalah tidak datang dengan label yang rapi sebagai
“masalah.” Masalah bagi seseorang bisa jadi merupakan kondisi yang menyenangkan
bagi orang lain. Satu manajer mungkin memandang 2% penurunan dalam penjualan
kuartal divisinya sebagai masalah serius yang membutuhkan tindakan langsung
darinya. Rekanannya dari divisi lain, juga. menghadapi penurunan penjualan 2%,
bisa saja menganggap hal itu dapat diterima. Jadi kesadaran bahwa suatu masalah
ada dan bahwa sebuah keputusan mungkin atau mungkin tidak diperlukan adalah isu
perseptual.
Setiap keputusan membutuhkan
kita untuk menginterpretasi dan mengevaluasi informasi. Kita umumnya menerima
data dari banyak sumber yang perlu kita saring, proses, dan interpretasi. Data
mana yang relevan bagi keputusan dan mana yang tidak. Persepsi kita akan
menjawab pertanyaan itu. Kita juga perlu mengembangkan alternatifalternatif dan
mengevaluasi kekuatan dan kelemahannya. Sekali lagi, proses perseptual kita
akan memengaruhi hasil akhir. Selama proses pengambilan keputusan, kesalahan
perseptual sering kali muncul sehingga dapat membiaskan analisis dan
kesimpulan.
Sekolah bisnis melatih
mahasiswa untuk mengikuti model pengambilan keputum rasional. Saat model memiliki
kelayakan, mereka tidak selalu menjelaskan bagaimana orang mengambil keputusan.
Perilaku organisasi memperbaiki cara kita mengambil keputusan dalam organisasi
dengan mengatasi kesalahan pengambilan keputusan yang dilakukan orang sebagai
tambahan dari kesalahan persepsi yang telah kita diskusikan. Berikut ini kami
menjelaskan kesalahan ini, dimulai dengan penjelasan singkat model pengambilan
keputusan rasional.
Model
Rasional, Rasionalitas Terbatas, dan Intuisi
Dalam perilaku organisasi,
ada konsep pengambilan keputusan yang umumnya diterima oleh masing-masing
individu untuk membuat determinasi: pengambilan keputusan rasional,
rasionalitas terbatas, dan intuisi. Meskipun prosesnya secara eksternal masuk
akal, mereka bisa saja tidak mengarah pada keputusan paling akurat (atau
terbaik). Lebih penting lagi, ada saat-saat di mana satu strategi bisa mengarah
pada hasil yang lebih baik dibandingkan yang lainnya pada situasi tertentu.
Pengambilan
Keputusan Rasional Kita sering kali
berpikir pengambil keputusan terbaik adalah rasional dan membuat pilihan yang
konsisten dan memaksimalkan nilai dalam batasan-batasan spesifik.
Keputusan-keputusan ini mengikuti enam langkah model pengambilan keputusan
rasional. Keenam langkah itu disajikan dalam Tampilan 6-3.
Model pengambilan keputusan rasional
mengasumsikan bahwa pengambil keputusan memiliki informasi yang komplet, mampu
mengidentifikasi semua opsi yang relevan dengan tidak bias, dan memilih opsi
dengan utilitas tertinggi. Kebanyakan keputusan

tidak mengikuti model rasional; orang-orang
biasanya puas menemukan sebuah solusi yang dapat diterima atau wajar atas
sebuah masalah dibandingkan yang optimal. Pilihan-pilihan cenderung dibatasi
pada gejala-gejala di sekitar masalah dan alternatif sekarang, Orang-orang sangat
tidak sadar dengan pengambilan keputusan yang tidak optimal.
Rasionalitas
Terbatas Kemampuan terbatas kita dalam
memproses informasi membuat tidak mungkin untuk mengasimilasikan semua
informasi yang diperlukan untuk optimalisasi. Kebanyakan orang merespons
masalah yang kompleks dengan menguranginya sampai level yang mereka siap mengerti.
Banyak masalah tidak memiliki solusi yang optimal karena mereka terlalu rumit
untuk cocok dengan model pengambilan keputusan rasional, sehingga orang-orang
memutuskan dan mengejar tindakan yang memenuhi persyaratan minimum untuk
mencapai tujuan; mereka mencari solusi yang memuaskan atau cukup.
Bias
dan Kesalahan Umum dalam Pengambilan Keputusan
Bias
Terlalu Percaya Diri Riset tekini terus
menyimpulkan bahwa kita cenderung terlalu percaya diri dengan kemampuan kita
dan kemampuan orang lain; juga, bahwa kita biasanya tidak sadar dengan bias
ini. Ketika kita diberikan pertanyaan-pertanyaan faktual dan diminta untuk
menilai probabilitas bahwa jawaban kita benar, kita cenderung optimis
berlebihan. Ketika orang mengatakan bahwa mereka 90% percaya mengenai kisaran
sebuah angka tertentu mungkin muncul, kisaran estimasi mereka mengandung
jawaban benar hanya sekitar 50% dan para ahli tidak lebih akurat tentang
interval kepercayaan diri dibandingkan pemula.
Individu yang memiliki
kecerdasan intelektual dan interpersonal paling lemah paling mungkin berlebihan
dalam mengestimasi kinerja dan kemampuannya. Ada pula hubungan negatif antara
optimisme wirausaha dan kinerja bisnis barunya; semakin optimis, semakin tidak
sukses. Kecenderungan untuk terlalu percaya diri akan ide-ide mereka mungkin
menyebabkan tidak direncanakannya bagaimana menghindari masalah yang muncul.
Terlalu percaya dirinya
investor beroperasi dalam ragam cara. Investor, khususnya pemula, berlebihan
dalam mengestimasi tidak hanya keahlian mereka dalam mencerna informasi, tetapi
juga kualitas informasi itu. Ujilah level kepercayaan diri Anda dengan
investasi bandingkanlah imbal hasil jangka panjang saham Anda dengan
reksa dana. Anda akan mendapati indeks keseluruhan juga berkinerja baik, atau
lebih baik dari saham yang dipiih. Alasan utama banyak orang menahan reksa dana
adalah bahwa mereka pikir, mereka lebih baik dalam memilih saham daripada
rata-rata orang, tetapi kebanyakan investor hanya akan melakukan sebaik atau
sedikit di atas pasar.
Bias
Jangkar. bias jangkar (anchoring bias)
adalah kecenderungan untuk bertahan pada informasi awal dan gagal menyesuaikan
secara adekuat pada infomasi sesudahnya. Hubungan dengan wawancara pekerjaan,
pikiran kita tampaknya memberikan jumlah penekanan yang tidak seimbang pada
informasi pertama yang diterima. Jangkar secara luas digunakan oleh orang-orang
dalam profesi di mana keahlian persuasif penting-ildan, manajemen, politik,
perumahan mewah, dan hukum. Misalkan dua pilot-jason dan Glenda telah berhenti
bekerja, dan sesudah pencarian kerja tawaran terbaik untuk mereka datang dari
Delta Airlines. Masing-masing akan menghasilkan pendapatan tahunan rata-rata
sebagai pilot jet kecil Delta: $126000. Iason awalnya pilot untuk Pinnacle,
sebuah pesawat regional di mana gaji tahunan ratarata adalah $82.000. Glenda
dulunya pilot FedEx, di mana gaji tahunan rata-rata $200.000. Pilot mana yang
kemungkinannya menerima, atau lebih menyukai tawaran Delta? Tentu saja Iason,
karena ia dijangkar dengan gaji yang lebih rendah.
Kapan pun negosiasi terjadi, penjangkaran
juga terjadi. Ketika pemberi kerja prospektif bertanya seberapa banyak gaji
Anda sebelumnya, jawaban Anda umumnya menjangkar tawaran pemberi kerja.
(Ingatlah ini ketika Anda menegosiasikan gaji Anda, tetapi tetapkan jangkar
hanya setinggi yang sebenarnya.) Semakin tepat jangkar Anda, semakin kecil
penyesuaiannya. Beberapa riset menyatakan orang berpikir membuat penyesuaian
sesudah jangkar ditetapkan sebagai penggenapan angka: jika Anda menyatakan gaji
$55.000, atasan Anda akan mempertimbangkan $50000 sampai $60.000 kisaran yang
wajar untuk negosiasi, tetapi jika Anda menyebutkan $55.650, atasan Anda lebih
mungkin untuk mempertimbangkan $55.000-$56.000 sebagai kisaran nilai yang
mungkin.
Bias Konfirmasi
Proses pengambilan keputusan rasional mengasumsikan kita mengumpulkan informasi secara objektif.Tetapi kita tidak. Kita secara selektif mengumpulkannya. Bias konfirmasi mewakili sebuah kasus persepsi selektif: kita mencari informasi yang membenarkan pilihan masa lalu kita, dan kita mengurangi lihan informasi yang berlawanan dengannya. Kita juga cenderung menerima nilai nominal informasi yang membenarkan pandangan semula kita, tetapi kita skeptis atas informasi yang yang menantangnya. oleh karena itu, informasi yang kita peroleh umumnya bias pada pandangan yang mendukung yang sudah kita pegang. Kita bahkan cenderung mencari sumber-sumber yang paling mungkin memberikan apa yang ingin kita dengar, dan kita memberikan terlalu banyak bobot pada informasi yang mendukung dan terlalu sedikit pada yang menentang. Kita paling rentan pada bias konfirmasi ketika kita percaya bahwa kita memiliki informasi yang baik dan dengan kuat berpegang pada opinikita, Untungnya, mereka yang merasa ada kebutuhan yang kuat untuk akurat dalam pengambilan keputusan kurang rentan pada bias konfirmasi.
Bias Ketersediaan
Kebanyakan orang takut terbang dibandingkan mengendarai mobil, tetapi jika terbang di pesawat komersial seberbahaya berkendara, ekuivalen dengan dua kali 747 jika kapasitas terisi penuh akan jatuh setiap minggu, membunuh semua yang terbang. Oleh karena media memberikan lebih banyak perhatian pada kecelakaan udara, kita cenderung melebihkan risiko terbang dan mengurangi risiko berkendara.
Bias ketersediaan adalah kecenderungan kita untuk mendasarkan penilaian pada informasi yang siap tersedia. Riset terbaru mengindikasikan bahwa sebuah kombinasi atas informasi yang siap sedia dan pengalaman langsung kita dengan informasi yang sama khususnya sangat berdampak pada pengambilan keputusan kita. Peristiwa yang memunculkan emosi, yang khususnya terang, yang kini cenderung lebih tersedia dalam ingatan kita, mengarahkan kita untuk mengestimasi berlebih kemungkinan peristiwa- peristiwa yang tidak mungkin seperti berada dalam pesawat yang jatuh, menderita komplikasi dari perlakuan media, atau dipecat.
Proses pengambilan keputusan rasional mengasumsikan kita mengumpulkan informasi secara objektif.Tetapi kita tidak. Kita secara selektif mengumpulkannya. Bias konfirmasi mewakili sebuah kasus persepsi selektif: kita mencari informasi yang membenarkan pilihan masa lalu kita, dan kita mengurangi lihan informasi yang berlawanan dengannya. Kita juga cenderung menerima nilai nominal informasi yang membenarkan pandangan semula kita, tetapi kita skeptis atas informasi yang yang menantangnya. oleh karena itu, informasi yang kita peroleh umumnya bias pada pandangan yang mendukung yang sudah kita pegang. Kita bahkan cenderung mencari sumber-sumber yang paling mungkin memberikan apa yang ingin kita dengar, dan kita memberikan terlalu banyak bobot pada informasi yang mendukung dan terlalu sedikit pada yang menentang. Kita paling rentan pada bias konfirmasi ketika kita percaya bahwa kita memiliki informasi yang baik dan dengan kuat berpegang pada opinikita, Untungnya, mereka yang merasa ada kebutuhan yang kuat untuk akurat dalam pengambilan keputusan kurang rentan pada bias konfirmasi.
Bias Ketersediaan
Kebanyakan orang takut terbang dibandingkan mengendarai mobil, tetapi jika terbang di pesawat komersial seberbahaya berkendara, ekuivalen dengan dua kali 747 jika kapasitas terisi penuh akan jatuh setiap minggu, membunuh semua yang terbang. Oleh karena media memberikan lebih banyak perhatian pada kecelakaan udara, kita cenderung melebihkan risiko terbang dan mengurangi risiko berkendara.
Bias ketersediaan adalah kecenderungan kita untuk mendasarkan penilaian pada informasi yang siap tersedia. Riset terbaru mengindikasikan bahwa sebuah kombinasi atas informasi yang siap sedia dan pengalaman langsung kita dengan informasi yang sama khususnya sangat berdampak pada pengambilan keputusan kita. Peristiwa yang memunculkan emosi, yang khususnya terang, yang kini cenderung lebih tersedia dalam ingatan kita, mengarahkan kita untuk mengestimasi berlebih kemungkinan peristiwa- peristiwa yang tidak mungkin seperti berada dalam pesawat yang jatuh, menderita komplikasi dari perlakuan media, atau dipecat.
Eskalasi Komitmen
Distorsilainnya yang mengganggu keputusan adalah kecenderungan untuk mengeskalasi komitmen, seringkali karena meningkatnya alasan-alasan nonrasional. Eskalasi komitmen merujuk pada bertahannya kita dengan keputusan sekalipun ada bukti yang jelas bahwa itu salah. Andaikan seorang teman yang telah mengencani seseorang selama beberapa tahun. Meskipun ia mengakui bahwa hubungannya tidak berjalan dengan baik, ia mengatakan ia masih akan menikahinya. Justifikasinya: saya telah berinvestasi banyak dalam hubungan ini!.
Kapankah eskalasi paling mungkin terjadi? Bukti mengindikasikan ia terjadi ketika individu memandang dirinya bertanggung jawab atas hasil. Ketakutan atas kegagalan pribadi bahkan membiaskan cara kita mencari dan mengevaluasi informasi sehingga kita memilih hanya informasi yang mendukung dedikasi kita. Kita mungkin, misalnya, membobotkan opini dengan memihak reinvestasi lebih kredibel dibandingkan informasi untuk divestasi.
Distorsilainnya yang mengganggu keputusan adalah kecenderungan untuk mengeskalasi komitmen, seringkali karena meningkatnya alasan-alasan nonrasional. Eskalasi komitmen merujuk pada bertahannya kita dengan keputusan sekalipun ada bukti yang jelas bahwa itu salah. Andaikan seorang teman yang telah mengencani seseorang selama beberapa tahun. Meskipun ia mengakui bahwa hubungannya tidak berjalan dengan baik, ia mengatakan ia masih akan menikahinya. Justifikasinya: saya telah berinvestasi banyak dalam hubungan ini!.
Kapankah eskalasi paling mungkin terjadi? Bukti mengindikasikan ia terjadi ketika individu memandang dirinya bertanggung jawab atas hasil. Ketakutan atas kegagalan pribadi bahkan membiaskan cara kita mencari dan mengevaluasi informasi sehingga kita memilih hanya informasi yang mendukung dedikasi kita. Kita mungkin, misalnya, membobotkan opini dengan memihak reinvestasi lebih kredibel dibandingkan informasi untuk divestasi.
Kesalahan Acak
Kebanyakan dari kita suka berpikir bahwa kita memiliki kendali atas dunia kita. Kecenderungan kita untuk percaya kita mampu memprediksi hasil dari peristiwa acak.adalah.kesalahan.acak.
Pengambilan keputusan terganggu ketika kita mencoba menciptakan pengertian dalam peristiwa acak, khususnya kita mengubah pola imajinasi menjadi ide yang ketika salah. Ini bisa menjadi artifisial sepenuhnya ("Saya tidak pernah mengambil keputusan penting pada hari jumat tanggal 13") atau ia dapat berkembang dari perilaku masa lampau yang ditanamkan ulang (Tiger woods sering kali mengenakan kemeja merah selama ronde akhir turnamen golf karena ia memenangkan banyak turnamen junior saat mengenakan kemeja merah). Keputusan yang didasarkan pada kejadian acak dapat mencacatkan kita ketika mereka memengaruhi penilaian kita atau.membiaskan.keputusan.utama.kita.
Kebanyakan dari kita suka berpikir bahwa kita memiliki kendali atas dunia kita. Kecenderungan kita untuk percaya kita mampu memprediksi hasil dari peristiwa acak.adalah.kesalahan.acak.
Pengambilan keputusan terganggu ketika kita mencoba menciptakan pengertian dalam peristiwa acak, khususnya kita mengubah pola imajinasi menjadi ide yang ketika salah. Ini bisa menjadi artifisial sepenuhnya ("Saya tidak pernah mengambil keputusan penting pada hari jumat tanggal 13") atau ia dapat berkembang dari perilaku masa lampau yang ditanamkan ulang (Tiger woods sering kali mengenakan kemeja merah selama ronde akhir turnamen golf karena ia memenangkan banyak turnamen junior saat mengenakan kemeja merah). Keputusan yang didasarkan pada kejadian acak dapat mencacatkan kita ketika mereka memengaruhi penilaian kita atau.membiaskan.keputusan.utama.kita.
Aversi Risiko
secara matematis, kita seharusnya dapati balikan 50-50 dari koin $100 senilai $50. Bagaimanapun, nilai yang diharapkan dari taruhan itu adalah $50. Meskipun demikian, hampir setiap orang selain penjudi yang berkomitmen lebih baik mendapatkan hal yang pasti daripada prospek yang berisiko. Bagi banyak orang, balikan 50-50 koin bahkan untuk nilai $200 mungkin tidak bernilai sebanyak kepastian $50, meskipun taruhannya secara matematis bernilai dua kali! Kecenderungan untuk memilih hal-hal yang pasti daripada hasil yang berisiko adalah aversi risiko.
Aversi risiko memiliki implikasi
penting. Untuk mengimbangi risiko yang inheren dalam sebuah upah berbasis
komisi, perusahaan membayarkan pekerja yang dikomisi cukup banyak daripada yang
mereka lakukan pada mereka dengan gaji tetap.
Bias Retrospeksi
Bias retrospeksi adalah kecenderungan untuk salah dalam mempercayai bahwa kita dapat memprediksinya secara akurat. Ketika kita memiliki umpan balik atas hasil, kita tampaknya baik dalam menyimpulkan itu kelihatan.
Misalnya, industri penyewaan video rumah jatuh seiring berkemban outlet distribusi online di pasar. Hollywood Video mendeklarasikan kebangkrutan pada Mei 2010 dan mulai melikuidasi aset-asetnya: Blockbuster menyatakan bangkrut pada September 2010. Beberapa telah menyatakan bahwa jika organisasi ini telah meningkatkan merek mereka dan sumber daya distribusi dengan efektif, mengembankan pengiriman berbasis Web lebih cepat, seperti yang dilakukan Netflix, dan menambahkan biaya distribusi yang rendah pada toko kelontong serta minimarket, seperti yang ditawarkan Redbox kita bisa menghindari kegagalan. Saat itu kelihatan sekarang dalam restropeksi, menggoda kita untuk berpikir bahwa kita akan dapat memprediksikannya, banyak ahli dengan informasi yang baik gagal mempediksi dua tren utama ini yang akan memutar industri.
Bias Retrospeksi
Bias retrospeksi adalah kecenderungan untuk salah dalam mempercayai bahwa kita dapat memprediksinya secara akurat. Ketika kita memiliki umpan balik atas hasil, kita tampaknya baik dalam menyimpulkan itu kelihatan.
Misalnya, industri penyewaan video rumah jatuh seiring berkemban outlet distribusi online di pasar. Hollywood Video mendeklarasikan kebangkrutan pada Mei 2010 dan mulai melikuidasi aset-asetnya: Blockbuster menyatakan bangkrut pada September 2010. Beberapa telah menyatakan bahwa jika organisasi ini telah meningkatkan merek mereka dan sumber daya distribusi dengan efektif, mengembankan pengiriman berbasis Web lebih cepat, seperti yang dilakukan Netflix, dan menambahkan biaya distribusi yang rendah pada toko kelontong serta minimarket, seperti yang ditawarkan Redbox kita bisa menghindari kegagalan. Saat itu kelihatan sekarang dalam restropeksi, menggoda kita untuk berpikir bahwa kita akan dapat memprediksikannya, banyak ahli dengan informasi yang baik gagal mempediksi dua tren utama ini yang akan memutar industri.
1.
Perbedaan
Individu
seperti yang kita diskusikan, pengambilan keputusan dalam praktiknya dikarakterisasikan oleh batasan-batasan rasionalitas, bias dan kesalahan umum, serta pengunaan intuisi. Perbedaan-perbedaan individu juga menciptakan deviasi dari model rasional. Dalam bagian ini, kita melihat perbedaan-perbedaan itu.
Kepribadian
Riset tentang kepribadian dan pengambilan keputusan menyatakan kepribadian memengaruhi keputusan kita. Mari kita lihat kehati-hatian dan harga diri (keduanya dibahas pada Bab 5).
Aspek-aspek spesifik dari kehati-hatian-daripada sifat-sifat luasnya-bisa memengaruhi eskalasi komitmen.ST Khususnya aspek kehati-hatian usaha keras untuk pencapaian dan kepatuhan. Pertama, riset menyatakan bahwa orang-orang yang berjuang dalam pencapaiannya lebih mungkin mengeskalasi komitmennya, sedangkan orang-orang yang patuh lebih tidak mungkin. Mengapa? Umumnya, orang-orang yang berorientasi pada pencapaian tidak suka gagal, meskipun demikian, lebih cenderung melakukan apa yang mereka pandang terbaik bagi organisasi. Kedua, individu yang mengejar pencapaian tampaknya lebih rentan pada bias retrospeksi,mungkin karena mereka perlu menjustifikasi tindakannya. Kita belum memiliki bukti mengenai apakah orang-orang yang patuh kebal pada bias ini.
seperti yang kita diskusikan, pengambilan keputusan dalam praktiknya dikarakterisasikan oleh batasan-batasan rasionalitas, bias dan kesalahan umum, serta pengunaan intuisi. Perbedaan-perbedaan individu juga menciptakan deviasi dari model rasional. Dalam bagian ini, kita melihat perbedaan-perbedaan itu.
Kepribadian
Riset tentang kepribadian dan pengambilan keputusan menyatakan kepribadian memengaruhi keputusan kita. Mari kita lihat kehati-hatian dan harga diri (keduanya dibahas pada Bab 5).
Aspek-aspek spesifik dari kehati-hatian-daripada sifat-sifat luasnya-bisa memengaruhi eskalasi komitmen.ST Khususnya aspek kehati-hatian usaha keras untuk pencapaian dan kepatuhan. Pertama, riset menyatakan bahwa orang-orang yang berjuang dalam pencapaiannya lebih mungkin mengeskalasi komitmennya, sedangkan orang-orang yang patuh lebih tidak mungkin. Mengapa? Umumnya, orang-orang yang berorientasi pada pencapaian tidak suka gagal, meskipun demikian, lebih cenderung melakukan apa yang mereka pandang terbaik bagi organisasi. Kedua, individu yang mengejar pencapaian tampaknya lebih rentan pada bias retrospeksi,mungkin karena mereka perlu menjustifikasi tindakannya. Kita belum memiliki bukti mengenai apakah orang-orang yang patuh kebal pada bias ini.
Jenis Kelamin
Riset atas kontemplasi menawarkan pandangan mengenai perbedaan jenis kelamin dalam pengambilan keputusan. komplementasi bermakna berefleksi dalam waktu yang lama. Dari sisi pengambilan keputusan, itu berarti terlalu memikirkan masalah. Dua puluh tahun studi mendapati wanita menghabiskan lebih banyak waktu dibandingkan pria dalam menganalisis masa lalu, masa kini, dan masa depan. Mereka lebih mungkin terialu menganalisis masalah sebelum mengambil keputusan dan menyesali keputusan ketika telah dibuat. Ini dapat mengarah pada pertimbangan hati-hati atas masalah dan pilihan. Meskipun demikian, itu dapat membuat masalah lebih sulit diselesaikan, meningkatkan Penyesalan atas keputusan masa lampau, dan meningkatkan depresi. Wanita hampir dua kali lebih banyak dari pria dalam mengembangkan depresi.
Riset atas kontemplasi menawarkan pandangan mengenai perbedaan jenis kelamin dalam pengambilan keputusan. komplementasi bermakna berefleksi dalam waktu yang lama. Dari sisi pengambilan keputusan, itu berarti terlalu memikirkan masalah. Dua puluh tahun studi mendapati wanita menghabiskan lebih banyak waktu dibandingkan pria dalam menganalisis masa lalu, masa kini, dan masa depan. Mereka lebih mungkin terialu menganalisis masalah sebelum mengambil keputusan dan menyesali keputusan ketika telah dibuat. Ini dapat mengarah pada pertimbangan hati-hati atas masalah dan pilihan. Meskipun demikian, itu dapat membuat masalah lebih sulit diselesaikan, meningkatkan Penyesalan atas keputusan masa lampau, dan meningkatkan depresi. Wanita hampir dua kali lebih banyak dari pria dalam mengembangkan depresi.
Kemampuan Mental
Kita tahu orang-orang dengan level
kemampuan mental yang lebih tinggi mampu memproses informasi lebih cepat,
memecahkan masalah lebih akurat, dan belajar lebih cepat, sehingga anda mungkin
mengekspektasikan mereka juga lebih sedikit beresiko salah mengambil keputusan
umum. Meskipun demikian, kemampuan mental tampaknya hanya membantu orang-orang
menghindari beberapa dari masalah tersebut. Orang-orang yang cerdas sama
mungkinnya untuk jatuh dalam jebakan penjangkaran, terlalu percaya diri, dan
eskalasi komitmen, mungkin karena cerdas saja tidak mengingatkan anda akan
kemungkinan anda terlalu percaya diri atau secara emosional defensif.
Perbedaan Budaya
Model rasional tidak membuat pengakuan atas perbedaan budaya, demikian pula dengan banyaknya literatur riset perilaku organisasi tentang pengambilan keputusan. Tetapi orang Indonesia, misalnya, tidak selalu mengambil keputusan dengan cara yang sama dengan orang Australia. Oleh karena itu, kita perlu mengakui bahwa latar belakang budaya dari pembuat keputusan dapat mempengaruhi dengan signifikan pilihan masalah, kedalaman analisis, pentingnya logika dan rasionalitas, dan apakah keputusan organisasi seharusnya dibuat secara autokrat oleh seorang manajer atau secara kolektif dalam kelompok.
Budaya berbeda dalam orientasi waktu, pentingnya rasionalitas, kepercayaan dalam kemampuan orang memecahkan masalah, dan preferensi pengambilan keputusan kolektif. Perbedaan dalam orientasi waktu membantu kita memahami mengapa manajer di Mesir mengambil keputusan pada fase yang lebih perlahan dan hati-hati daripada rekanannya di AS. Ketika rasionalitas dinilai di Amerika Utara, tidak demikian di tempat lain. Seorang manajer Amerika Utara mungkin mengambil keputusan penting secara intuitif tetapi penting untuk tampil melanjutkannya dengan yang rasional karena rasionalitas sangat dinilai di Barat. Dalam negara-negara seperti Iran, di mana rasionalitas tidak sebesar faktor-faktor lainnya, usaha untuk tampil rasional tidak penting.
Model rasional tidak membuat pengakuan atas perbedaan budaya, demikian pula dengan banyaknya literatur riset perilaku organisasi tentang pengambilan keputusan. Tetapi orang Indonesia, misalnya, tidak selalu mengambil keputusan dengan cara yang sama dengan orang Australia. Oleh karena itu, kita perlu mengakui bahwa latar belakang budaya dari pembuat keputusan dapat mempengaruhi dengan signifikan pilihan masalah, kedalaman analisis, pentingnya logika dan rasionalitas, dan apakah keputusan organisasi seharusnya dibuat secara autokrat oleh seorang manajer atau secara kolektif dalam kelompok.
Budaya berbeda dalam orientasi waktu, pentingnya rasionalitas, kepercayaan dalam kemampuan orang memecahkan masalah, dan preferensi pengambilan keputusan kolektif. Perbedaan dalam orientasi waktu membantu kita memahami mengapa manajer di Mesir mengambil keputusan pada fase yang lebih perlahan dan hati-hati daripada rekanannya di AS. Ketika rasionalitas dinilai di Amerika Utara, tidak demikian di tempat lain. Seorang manajer Amerika Utara mungkin mengambil keputusan penting secara intuitif tetapi penting untuk tampil melanjutkannya dengan yang rasional karena rasionalitas sangat dinilai di Barat. Dalam negara-negara seperti Iran, di mana rasionalitas tidak sebesar faktor-faktor lainnya, usaha untuk tampil rasional tidak penting.
2.
Batasan
organisasi
Organisasi dapat membatasi pengambil keputusan, menciptakan deviasi dari model rasional. Misalnya, manajer membentuk keputusan merefleksikan evaluasi kinerja dan sistem imbalan organisasi, untuk memenuhi peraturan baku dan untuk memenuhi batasan-batasan waktu organisasi. Contoh dapat juga membatasi keputusan.
Evaluasi Kinerja
Manajer dipengaruhi oleh kriteria yang menjadi dasar mereka dievaluasi. Jika seorang manajer divisi percaya bahwa kinerja pabrik yang berada di bawah tanggung jawabnya beroperasi terbaik ketika ia tidak mendengar hal negatif, kita akan mendapati manajer pabriknya bekerja menghabiskan banyak waktu untuk memastikan tidak ada informasi negatif yang sampai padanya.
Sistem imbalan
Sistem imbalan organisasi memengaruhi pengambil keputusan dengan menyarankan pilihan apa yang memiliki pembayaran pribadi yang lebih baik. Jika organisasi menghargai penghindaran risiko, manajer lebih mungkin untuk mengambil keputusan konservatif. Dari tahun 1930-an sampai pertengahan tahun 1980-an General Motors secara konsisten memberikan promosi dan bonus pada manajer yang tetap low profile dan menghindari kontroversi. Eksekutif ini menjadi ahli dalam menghindari isu-isu dan menyerahkan keputusan-keputusan kontroversial pada komite.
Peraturan Baku
David, seorang manajer sif di restoran Taco Bell di San Antonio, Texas, menjelaskan batasan-batasan yang dihadapinya dalam pekerjaannya, "Saya menerima peraturan-peraturan yang mencakup hampir setiap keputusan yang saya buat dari bagaimana membuat burrito sampai seberapa sering saya perlu membersihkan toilet. Pekerjaan saya tidak muncul dengan banyak kebebasan memilih". Situasi David tidaklah unik. Semua, kecuali sangat sedikit, organisasi membuat peraturan dan kebijakan untuk memprogram keputusan dan mengarahkan individu bertindak sesuai yang diharapkan. Dalam melakukan hal demikian, mereka membatasi pilihan-pilihan keputusan.
Organisasi dapat membatasi pengambil keputusan, menciptakan deviasi dari model rasional. Misalnya, manajer membentuk keputusan merefleksikan evaluasi kinerja dan sistem imbalan organisasi, untuk memenuhi peraturan baku dan untuk memenuhi batasan-batasan waktu organisasi. Contoh dapat juga membatasi keputusan.
Evaluasi Kinerja
Manajer dipengaruhi oleh kriteria yang menjadi dasar mereka dievaluasi. Jika seorang manajer divisi percaya bahwa kinerja pabrik yang berada di bawah tanggung jawabnya beroperasi terbaik ketika ia tidak mendengar hal negatif, kita akan mendapati manajer pabriknya bekerja menghabiskan banyak waktu untuk memastikan tidak ada informasi negatif yang sampai padanya.
Sistem imbalan
Sistem imbalan organisasi memengaruhi pengambil keputusan dengan menyarankan pilihan apa yang memiliki pembayaran pribadi yang lebih baik. Jika organisasi menghargai penghindaran risiko, manajer lebih mungkin untuk mengambil keputusan konservatif. Dari tahun 1930-an sampai pertengahan tahun 1980-an General Motors secara konsisten memberikan promosi dan bonus pada manajer yang tetap low profile dan menghindari kontroversi. Eksekutif ini menjadi ahli dalam menghindari isu-isu dan menyerahkan keputusan-keputusan kontroversial pada komite.
Peraturan Baku
David, seorang manajer sif di restoran Taco Bell di San Antonio, Texas, menjelaskan batasan-batasan yang dihadapinya dalam pekerjaannya, "Saya menerima peraturan-peraturan yang mencakup hampir setiap keputusan yang saya buat dari bagaimana membuat burrito sampai seberapa sering saya perlu membersihkan toilet. Pekerjaan saya tidak muncul dengan banyak kebebasan memilih". Situasi David tidaklah unik. Semua, kecuali sangat sedikit, organisasi membuat peraturan dan kebijakan untuk memprogram keputusan dan mengarahkan individu bertindak sesuai yang diharapkan. Dalam melakukan hal demikian, mereka membatasi pilihan-pilihan keputusan.
Batasan
waktu Akibat sistem
Hampir semua keputusan penting muncul dengan tenggat waktu eksplisit. sebuah laporan tentang pengembangan produk baru bisa saja harus siap untuk ditinjau komite eksekutif tanggal pertama bulan itu. Kondisi-kondisi demikian sering membuat sulit, jika tidak mungkin, bagi manajer untuk memperoleh semua informasi sebelum mengambil keputusan.
Contoh Historis
Keputusan tidak dibuat dalam ruang vakum, mereka memiliki sebuah konteks. keputusan-keputusan individu merupakan poin-poin dalam arus pilihan. yang dibuat di masa lampau seperti hantu yang membuntuti dan membatasi pilihan-pilhan sekarang. Merupakan rahasia umum bahwa penentu terbesar dari ukuran dari anggara tahun ini adalah anggaran tahun lalu. Pilihan-pilihan yang dibuat hari ini sebagian besar merupakan hasil dari pilihan-pilihan yang dibuat bertahun-tahun.
Hampir semua keputusan penting muncul dengan tenggat waktu eksplisit. sebuah laporan tentang pengembangan produk baru bisa saja harus siap untuk ditinjau komite eksekutif tanggal pertama bulan itu. Kondisi-kondisi demikian sering membuat sulit, jika tidak mungkin, bagi manajer untuk memperoleh semua informasi sebelum mengambil keputusan.
Contoh Historis
Keputusan tidak dibuat dalam ruang vakum, mereka memiliki sebuah konteks. keputusan-keputusan individu merupakan poin-poin dalam arus pilihan. yang dibuat di masa lampau seperti hantu yang membuntuti dan membatasi pilihan-pilhan sekarang. Merupakan rahasia umum bahwa penentu terbesar dari ukuran dari anggara tahun ini adalah anggaran tahun lalu. Pilihan-pilihan yang dibuat hari ini sebagian besar merupakan hasil dari pilihan-pilihan yang dibuat bertahun-tahun.
N. Bagaimana Mengenai Etika dalam Pengambilan Keputusan?
Pertimbangan etis seharusnya menjadi sebuah kriteria penting dalam semua pengambilan keputusan organisasi. Pada bagian ini, kami menampilkan tiga cara untuk membingkai keputusan secara etis. Para manajer juga perlu memahami pentingnya peran yang seharusnya dimainkan kreativitas dalam proses keputusan, manajer-manajer terbaik menggunakan strategi untuk meningkatkan potensi kreatif pekerjaannya dan menuai ide-ide untuk aplikasi organisasional.
Tiga Kriteria Keputusan
Etis
Ukuran etis pertama adalah utilitarianisme, yang mengusulkan pengambilan keputusan hanya berdasarkan outcome/keluaran, idealnya untuk memberikan yang paling baik dalam jumlah yang paling besar. Pandangan ini mendominasi pengambilan keputusan bisnis. la konsisten dengan sasaran seperti efisiensi, produktivitas, dan laba tinggi.
Kriteria etis lainnya adalah untuk membuat keputusan konsisten dengan kebebasan dan hak-hak fundamental, seperti yang tercantum dalam Piagam Hak Asasi. Sebuah penekanan pada hak dalam pengambilan keputusan berati menghormati dan melindungi hak-hak asasi individu, seperti hak atas privasi, kebebasan berbicara, dan proses yang pantas. Kriteria ini melindungi whistle-blower ketika mereka mengungkapkan praktik tidak etis organisasi pada pers atau agen pemerintah, menggunakan hak kebebasan berbicara.
Kriteria ketiga adalah untuk menanamkan dan mendorong aturan-aturan dengan adil dan netral untuk memastikan keadilan atau distribusi yang merata manfaat dan biaya. Anggota serikat umumnya memihak pandangan ini. Adil membayar orang dengan upah yang sama untuk pekerjaan yang sama tanpa memandang perbedaan kinerja dan menggunakan senioritas sebagai penentu utama dalam keputusan PHK.
Ukuran etis pertama adalah utilitarianisme, yang mengusulkan pengambilan keputusan hanya berdasarkan outcome/keluaran, idealnya untuk memberikan yang paling baik dalam jumlah yang paling besar. Pandangan ini mendominasi pengambilan keputusan bisnis. la konsisten dengan sasaran seperti efisiensi, produktivitas, dan laba tinggi.
Kriteria etis lainnya adalah untuk membuat keputusan konsisten dengan kebebasan dan hak-hak fundamental, seperti yang tercantum dalam Piagam Hak Asasi. Sebuah penekanan pada hak dalam pengambilan keputusan berati menghormati dan melindungi hak-hak asasi individu, seperti hak atas privasi, kebebasan berbicara, dan proses yang pantas. Kriteria ini melindungi whistle-blower ketika mereka mengungkapkan praktik tidak etis organisasi pada pers atau agen pemerintah, menggunakan hak kebebasan berbicara.
Kriteria ketiga adalah untuk menanamkan dan mendorong aturan-aturan dengan adil dan netral untuk memastikan keadilan atau distribusi yang merata manfaat dan biaya. Anggota serikat umumnya memihak pandangan ini. Adil membayar orang dengan upah yang sama untuk pekerjaan yang sama tanpa memandang perbedaan kinerja dan menggunakan senioritas sebagai penentu utama dalam keputusan PHK.
O. Kreativitas, Pengambilan
keputusan Kreatif, dan Inovasi dalam organisasi
Meskipun model pengambilan keputusan rasional akan sering memperbaiki keputusan, seorang pengambil keputusan juga membutuhkan kreativitas, kemampuan untuk menghasilkan ide-ide yang inovatif dan berguna. Ide-ide ini berbeda dari apa yang telah dilakukan sebelumnya tetapi pantas untuk masalahnya.
Kreativitas membuat pengambil keputusan untuk secara penuh menilai dan memahami masa termasuk melihat masalah yang tidak dapat dilihat orang lain. Untuk alasan ini, perusahaan kosmetik Prancis L'Oreal menempatkan para manajernya dalam latihan-latihan kreatif seperti memasak atau membuat musik, dan Universitas Chicago mensyaratkan mahasiswa MBA untuk membuat film pendek mengenai pengalaman mereka.
Meskipun model pengambilan keputusan rasional akan sering memperbaiki keputusan, seorang pengambil keputusan juga membutuhkan kreativitas, kemampuan untuk menghasilkan ide-ide yang inovatif dan berguna. Ide-ide ini berbeda dari apa yang telah dilakukan sebelumnya tetapi pantas untuk masalahnya.
Kreativitas membuat pengambil keputusan untuk secara penuh menilai dan memahami masa termasuk melihat masalah yang tidak dapat dilihat orang lain. Untuk alasan ini, perusahaan kosmetik Prancis L'Oreal menempatkan para manajernya dalam latihan-latihan kreatif seperti memasak atau membuat musik, dan Universitas Chicago mensyaratkan mahasiswa MBA untuk membuat film pendek mengenai pengalaman mereka.
Perilaku
Kreatif
Perilaku kreatif terjadi dalam empat langkah, yang masing-masing mengarah pada yang berikutnya:
1. Formulasi masalah
Setiap tindakan kreativitas dimulai dengan masalah yang memunculkan perilaku dirancang untuk memecahkannya. Oleh karena itu, formulasi masalah didefinisikan sebagai tahapan perilaku kreatif di mana kita mengidentifikasi sebuah masalah atau peluang yang membutuhkan sebuah solusi yang belum diketahui Misalnya, artis/wirausaha Marshall Carbee dan pebisnis John Bennett mendirikan Eco Safety Products sesudah menemukan bahwa bahkan cat yang dinyatakan aman oleh Agen Perlindungan Lingkungan (EPA) mengeluarkan zat kimia berbahaya. Oleh karena itu, pengembangan Bennett atas cat seni-aman berbahan dasar kedelai dimulai dengan mengidentifikasi sebuah masalah keamanan dengan cat yang saat ini dipasarkan.
2. Pengumpulan informasi.
Dengan adanya masalah, Solusinya jarang sekali ada di tangan. Kita membutuhkan waktu untuk belajar lebih dan memproses pembelajaran itu. Oleh karena itu, pengumpulan informasi adalah tahapan perilaku kreatif ketika solusi-solusi yang mungkin atas masalah diinkubasikan dalam pikiran individu. Niklas Laninge dari Hoa's Tool shop, sebuah perusahaan berbasis di Stockholm yang membantu organisasi menjadi lebih inovatif, berpendapat bahwa pengumpulan informasi kreatif berarti berpikir di luar rutinitas biasa dan zona yaman. Misalnya, makan siang dengan seseorang di luar bidang Anda untuk membahas masalah. Laninge mengatakan, "Itu sangat mudah, dan Anda dipaksa untuk berbicara mengenai bisnis Anda dan hal-hal yang Anda ingin capai dari sisi yang baru. Anda tidak dapat menggunakan istilah-istilah khusus karena orang-orang tidak mengerti maksud Anda.
Perilaku kreatif terjadi dalam empat langkah, yang masing-masing mengarah pada yang berikutnya:
1. Formulasi masalah
Setiap tindakan kreativitas dimulai dengan masalah yang memunculkan perilaku dirancang untuk memecahkannya. Oleh karena itu, formulasi masalah didefinisikan sebagai tahapan perilaku kreatif di mana kita mengidentifikasi sebuah masalah atau peluang yang membutuhkan sebuah solusi yang belum diketahui Misalnya, artis/wirausaha Marshall Carbee dan pebisnis John Bennett mendirikan Eco Safety Products sesudah menemukan bahwa bahkan cat yang dinyatakan aman oleh Agen Perlindungan Lingkungan (EPA) mengeluarkan zat kimia berbahaya. Oleh karena itu, pengembangan Bennett atas cat seni-aman berbahan dasar kedelai dimulai dengan mengidentifikasi sebuah masalah keamanan dengan cat yang saat ini dipasarkan.
2. Pengumpulan informasi.
Dengan adanya masalah, Solusinya jarang sekali ada di tangan. Kita membutuhkan waktu untuk belajar lebih dan memproses pembelajaran itu. Oleh karena itu, pengumpulan informasi adalah tahapan perilaku kreatif ketika solusi-solusi yang mungkin atas masalah diinkubasikan dalam pikiran individu. Niklas Laninge dari Hoa's Tool shop, sebuah perusahaan berbasis di Stockholm yang membantu organisasi menjadi lebih inovatif, berpendapat bahwa pengumpulan informasi kreatif berarti berpikir di luar rutinitas biasa dan zona yaman. Misalnya, makan siang dengan seseorang di luar bidang Anda untuk membahas masalah. Laninge mengatakan, "Itu sangat mudah, dan Anda dipaksa untuk berbicara mengenai bisnis Anda dan hal-hal yang Anda ingin capai dari sisi yang baru. Anda tidak dapat menggunakan istilah-istilah khusus karena orang-orang tidak mengerti maksud Anda.
3. Pemunculan ide
Jika kita telah mengumpulkan informasi yang relevan, saatnya untuk mentranslasikan pengetahuan menjadi ide-ide. Oleh karena itu, pemunculan ide adalah proses perilaku kreatif di mana kita mengembangkan solusi-solusi yang mungkin atas sebuah masalah dari informasi dan pengetahuan yang relevan. Semakin meningkat, pemunculan ide bersifat kolaboratif. Misalnya, ketika insinyur NASA mengembangkan ide untuk mendaratkan pesawat luar angkasa di Mars, mereka melakukannya dengan kolaboratif. Sebelum muncul dengan rasa ingin tahu-sebuah pesawat bajak berukuran SUV yang mendarat di Mars tim itu menghabiskan tiga hari menggali ide-ide potensial di papan tulis.
4. Evaluasi ide
Terakhir, saatnya memilih ide-ide yang dimunculkan. Oleh karena itu, evaluasi ide adalah proses perilaku kreatif di mana kita mengevuasi solusi-solusi potensial untuk mengidentifikasi yang terbaik. Kadang-kadang metode memilih bisa jadi inovatif. Ketika pemilik Dallas Mavericks Mark Cuban tidak senang dengan seragam tim, ia meminta fans untuk membantu merancang dan memilih seragam terbaik. Umumnya, untuk mengeliminasi bias nyata Anda ingin agar orang-orang yang melakukan evaluasi ide adalah orang yang berbeda dengan orang memunculkan ide.
Jika kita telah mengumpulkan informasi yang relevan, saatnya untuk mentranslasikan pengetahuan menjadi ide-ide. Oleh karena itu, pemunculan ide adalah proses perilaku kreatif di mana kita mengembangkan solusi-solusi yang mungkin atas sebuah masalah dari informasi dan pengetahuan yang relevan. Semakin meningkat, pemunculan ide bersifat kolaboratif. Misalnya, ketika insinyur NASA mengembangkan ide untuk mendaratkan pesawat luar angkasa di Mars, mereka melakukannya dengan kolaboratif. Sebelum muncul dengan rasa ingin tahu-sebuah pesawat bajak berukuran SUV yang mendarat di Mars tim itu menghabiskan tiga hari menggali ide-ide potensial di papan tulis.
4. Evaluasi ide
Terakhir, saatnya memilih ide-ide yang dimunculkan. Oleh karena itu, evaluasi ide adalah proses perilaku kreatif di mana kita mengevuasi solusi-solusi potensial untuk mengidentifikasi yang terbaik. Kadang-kadang metode memilih bisa jadi inovatif. Ketika pemilik Dallas Mavericks Mark Cuban tidak senang dengan seragam tim, ia meminta fans untuk membantu merancang dan memilih seragam terbaik. Umumnya, untuk mengeliminasi bias nyata Anda ingin agar orang-orang yang melakukan evaluasi ide adalah orang yang berbeda dengan orang memunculkan ide.
Penyebab Perilaku Kreatif
Potensi kreatif
Apakah ada hal yang disebut kepribadian kreatif? Tentu saja. Ketika jenius kreatif baik dalam ilmu pengetahuan (Albert Einstein), seni (Pablo Picasso), maupun bisnis (Steve Jobs)-langka, kebanyakan orang memiliki beberapa karakteristik yang merupakan bagian dari orang-orang yang luar biasa kreatif. semakin banyak karakteristik ini kita miliki, semakin tinggi potensi kreatif kita.
Kecerdasan berhubungan dengan kreativitas. orang-orang cerdas lebih kreatif karena mereka lebih baik dalam memecahkan masalah yang kompleks. Meskipun demikian, individu-individu cerdas bisa juga lebih kreatif karena mereka memiliki memori kerja yang lebih besar, yaitu mereka dapat mengingat lebih banyakinformasi yang berhubungan dengan tugas di tangan.
Sifat kepribadian Lima Besar keterbukaan pengalaman berkorelasi dengan kreativitas, mungkin karena individu-individu yang terbuka kurang seragam dalam tindakan dan lebih menyebar dalam pemikiran. Sifat lainnya dari orang-orang kreatif termasuk kepribadian proaktif, kepercayaan diri,mengambil risiko, toleransi pada ambiguitas, dan daya tahan.
Potensi kreatif
Apakah ada hal yang disebut kepribadian kreatif? Tentu saja. Ketika jenius kreatif baik dalam ilmu pengetahuan (Albert Einstein), seni (Pablo Picasso), maupun bisnis (Steve Jobs)-langka, kebanyakan orang memiliki beberapa karakteristik yang merupakan bagian dari orang-orang yang luar biasa kreatif. semakin banyak karakteristik ini kita miliki, semakin tinggi potensi kreatif kita.
Kecerdasan berhubungan dengan kreativitas. orang-orang cerdas lebih kreatif karena mereka lebih baik dalam memecahkan masalah yang kompleks. Meskipun demikian, individu-individu cerdas bisa juga lebih kreatif karena mereka memiliki memori kerja yang lebih besar, yaitu mereka dapat mengingat lebih banyakinformasi yang berhubungan dengan tugas di tangan.
Sifat kepribadian Lima Besar keterbukaan pengalaman berkorelasi dengan kreativitas, mungkin karena individu-individu yang terbuka kurang seragam dalam tindakan dan lebih menyebar dalam pemikiran. Sifat lainnya dari orang-orang kreatif termasuk kepribadian proaktif, kepercayaan diri,mengambil risiko, toleransi pada ambiguitas, dan daya tahan.
Lingkungan Kreatif
Kebanyakan dari kita memiliki potensi kreatif yang dapat kita pelajari untuk diterapkan, tetapi sepenting apa pun potensi kreatif tidaklah cukup jika hanya sendirian saja. Kita perlu berada dalam lingkungan di mana potensi kreatif dapat direalisasikan. Apa faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi potensi kreatif agar ditranslasikan dalam perilaku kreatif?
Pertama dan yang paling penting adalah motivasi. Jika Anda tidak termotivasi untuk menjadi kreatif, tidak mun gkin Anda akan menjadi kreatif. Sebuah tinjauan atas 26 studi mengungkapkan bahwa motivasi intrinsik, atau keinginan untuk mengerjakan sesuatu karena lebih menarik, menyenangkan, memuaskan, dan menantang, berkorelasi cukup kuat dengan hasil kreatif. Hubungan ini benar tanpa memandang apakah kita sedang berbicara mengenai kreativitas pelajar atau kreativitas pekerja.
Kebanyakan dari kita memiliki potensi kreatif yang dapat kita pelajari untuk diterapkan, tetapi sepenting apa pun potensi kreatif tidaklah cukup jika hanya sendirian saja. Kita perlu berada dalam lingkungan di mana potensi kreatif dapat direalisasikan. Apa faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi potensi kreatif agar ditranslasikan dalam perilaku kreatif?
Pertama dan yang paling penting adalah motivasi. Jika Anda tidak termotivasi untuk menjadi kreatif, tidak mun gkin Anda akan menjadi kreatif. Sebuah tinjauan atas 26 studi mengungkapkan bahwa motivasi intrinsik, atau keinginan untuk mengerjakan sesuatu karena lebih menarik, menyenangkan, memuaskan, dan menantang, berkorelasi cukup kuat dengan hasil kreatif. Hubungan ini benar tanpa memandang apakah kita sedang berbicara mengenai kreativitas pelajar atau kreativitas pekerja.
Keluaran dari Kreatif
(Inovasi)
Tahapan akhir dari model kreativitas kita adalah hasil. Perilaku kreatif tidak selalu menghasilkan hasil kreatif atau inovatif. Seorang pekerja mungkin menghasilkan sebuah ide kreatif dan tidak pernah membagikannya. Manajemen mungkin menolak sebuah solusi yang kreatif. Tim mungkin membatasi perilaku kreatif dengan mengisolasikan mereka yang mengusulkan ide-ide berbeda. Satu studi menunjukkan bahwa kebannyakan orang memiliki bias terhadap menerima ide-ide kreatif karena ide-ide menciptakan ketidakpastian. Ketika orang-orang merasa tidak pasti, kemampuan untuk melihat suatu ide sebagai sesuatu yabg kreatif diblok.
Kita dapat mendefinisikan keluaran dari kreatif (creative outcome) sebagai ide-ide atau solusi-solusi yang dinilai baru dan berguna oleh pemangku kepentingan yang relevan. Pembaruan itu sendiri tidak menghasilkan sebuah hasil kreatif jika tidak berguna. Oleh karena itu, solusi yang aneh hanya kreatif ketika ia membantu memecahkan masalah. Kegunaan dari solusi mungkin dibuktikan sendiri (iPad) atau mungkin dianggap sukses oleh pemangku kepentingan sebelum kesuksesan nyata diketahui.
Tahapan akhir dari model kreativitas kita adalah hasil. Perilaku kreatif tidak selalu menghasilkan hasil kreatif atau inovatif. Seorang pekerja mungkin menghasilkan sebuah ide kreatif dan tidak pernah membagikannya. Manajemen mungkin menolak sebuah solusi yang kreatif. Tim mungkin membatasi perilaku kreatif dengan mengisolasikan mereka yang mengusulkan ide-ide berbeda. Satu studi menunjukkan bahwa kebannyakan orang memiliki bias terhadap menerima ide-ide kreatif karena ide-ide menciptakan ketidakpastian. Ketika orang-orang merasa tidak pasti, kemampuan untuk melihat suatu ide sebagai sesuatu yabg kreatif diblok.
Kita dapat mendefinisikan keluaran dari kreatif (creative outcome) sebagai ide-ide atau solusi-solusi yang dinilai baru dan berguna oleh pemangku kepentingan yang relevan. Pembaruan itu sendiri tidak menghasilkan sebuah hasil kreatif jika tidak berguna. Oleh karena itu, solusi yang aneh hanya kreatif ketika ia membantu memecahkan masalah. Kegunaan dari solusi mungkin dibuktikan sendiri (iPad) atau mungkin dianggap sukses oleh pemangku kepentingan sebelum kesuksesan nyata diketahui.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kepribadian
adalah karakter-karakter internal termasuk didalamnya berbagai
atribut,sifat,tindakan yang membedakan dengan orang lain. Secara praktis konsep
kepribadian dapat didefinisikan sebagai seperangkat pola perasaan,pemikiran dan
perilaku yang unik yang menjadi standar respon konsumen untuk berbagai situasi.
Nilai adalah sesuatu
yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu
itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna
bagi kehidupan manusia.
bagi kehidupan manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Robbins,
Stephen P. dan Timothy A. Judge. 2015. Perilaku Organisasi Edisi ke-16,
Jakarta:
Salemba Empat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar